Wacana Dedolarisasi BRICS Memanas, Sri Mulyani: RAPBN Disusun Hati-Hati

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia menyatakan akan menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 secara hati-hati, menyusul dinamika global terkait wacana dedolarisasi yang digaungkan oleh negara-negara BRICS.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, ketidakpastian ekonomi global termasuk reaksi Amerika Serikat atas agenda BRICS menjadi faktor penting dalam perumusan asumsi makro ekonomi nasional.
“Dunia saat ini sedang dalam ketidakpastian. BRICS membahas pengurangan ketergantungan pada dolar AS, dan hal itu memicu respons keras dari Presiden Trump,” ujar Sri Mulyani dalam keterangan di Gedung DPR RI, Senin (7/7/2025).
Baca Juga: Target Ekonomi 2026, Menkeu Sri Minta Investasi Rp7.500 Triliun Digencarkan
Sebelumnya, Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan 10% bagi negara-negara BRICS, dan 100% jika kelompok tersebut tetap mendesak penggunaan mata uang selain dolar dalam perdagangan global.
Sri Mulyani menyebut dinamika ini menjadi pertimbangan strategis dalam penyusunan KEM-PPKF 2026, terutama karena potensi tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.
“Pemerintah harus mencermati dampaknya terhadap sektor fiskal, ekspor, dan stabilitas makro,” ujarnya.
Baca Juga: Menkeu Akui Ketidakpastian Global Kini Bersifat Permanen
Wacana dedolarisasi telah menjadi salah satu agenda strategis BRICS sejak 2022, pasca AS memberlakukan sanksi finansial terhadap Rusia akibat invasi ke Ukraina.
Negara-negara seperti China, Rusia, India, dan Brasil mulai mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan.
Meskipun Indonesia bukan anggota penuh BRICS, namun status sebagai mitra dialog membuat RI rentan terdampak terhadap kebijakan pembalasan dari AS.
Pemerintah, melalui koordinasi dengan Bank Indonesia dan Kementerian Luar Negeri, disebut tengah menyiapkan langkah antisipatif.
Langkah ini mencakup diversifikasi pasar ekspor dan penguatan cadangan devisa guna menjaga kestabilan sektor keuangan.
Selain itu, pembicaraan bilateral dengan AS akan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada kebijakan sepihak yang merugikan Indonesia.
“Stabilitas keuangan negara tidak hanya ditentukan dari dalam negeri, tapi juga dari respons kita terhadap ketegangan global,” kata Sri Mulyani.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









