Impor Barang Modal Tumbuh Hampir 18 Persen di Januari-Agustus 2025, Tembus USD31,32 Miliar
Hefriday | 1 Oktober 2025, 16:55 WIB

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang modal Indonesia mencapai USD31,32 miliar pada periode Januari–Agustus 2025. Angka ini tumbuh 17,94% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah menyebut, barang modal menjadi penyumbang utama dari kenaikan impor nasional yang secara total mencapai USD155,99 miliar, atau naik 2,05% secara tahunan.
“Impor barang modal yang naik cukup besar berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, kapal atau struktur terapung, serta kendaraan udara dan komponennya,” kata Habibullah dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/10/2025).
Berdasarkan data BPS, nilai impor migas sepanjang Januari–Agustus 2025 tercatat sebesar USD21,11 miliar, turun 12,82% dibandingkan tahun lalu. Sebaliknya, impor non-migas meningkat 4,85% menjadi USD134,88 miliar.
Sementara itu, impor bahan baku penolong turun 1,09% menjadi USD110,57 miliar, sedangkan impor barang konsumsi mengalami kontraksi 2,85% dengan nilai USD14,09 miliar.
China, Jepang dan AS Mendominasi
Dari sisi negara asal, impor Indonesia paling banyak datang dari China dengan nilai USD54,76 miliar, disusul Jepang sebesar USD9,91 miliar, dan Amerika Serikat senilai USD6,51 miliar.
Namun, impor dari kawasan ASEAN dan Uni Eropa justru mengalami penurunan, mencerminkan adanya pergeseran pola perdagangan internasional Indonesia.
Jika dilihat per bulan, total impor Indonesia pada Agustus 2025 mencapai USD19,47 miliar, turun 6,56% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Nilai impor migas bulan tersebut justru naik 3,17% menjadi USD2,73 miliar. Namun, impor non-migas turun lebih dalam, yakni 7,98% menjadi USD16,74 miliar.
Habibullah menjelaskan, penurunan impor tahunan didorong oleh kontraksi pada sektor non-migas, dengan kontribusi penurunan sebesar 6,97%.
Pada Agustus 2025, BPS mencatat impor barang konsumsi turun 5,24% secara tahunan, sementara impor bahan baku penolong terkoreksi lebih tajam, yakni 9,06%, dengan andil penurunan 6,52%.
“Untuk barang modal justru menunjukkan adanya peningkatan. Nilai impor barang modal naik sebesar 2,45 persen,” ujar Habibullah.
Kenaikan impor barang modal biasanya mencerminkan adanya peningkatan aktivitas investasi, karena barang-barang tersebut berhubungan langsung dengan pengadaan mesin, peralatan, dan sarana produksi.
“Tren ini menunjukkan pelaku usaha masih melakukan ekspansi kapasitas, meski terjadi pelemahan di sisi konsumsi dan bahan baku,” tambah Habibullah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 4Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 520 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 8Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








