Akurat
Pemprov Sumsel

Mitigasi Dampak Penutupan Selat Hormuz, Airlangga: Pertamina Sudah Mou Dengan Beberapa Perusahaan Migas AS

Esha Tri Wahyuni | 2 Maret 2026, 18:58 WIB
Mitigasi Dampak Penutupan Selat Hormuz, Airlangga: Pertamina Sudah Mou Dengan Beberapa Perusahaan Migas AS
lapangan migas

AKURAT.CO Konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap harga minyak dunia dan stabilitas pasokan energi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu suplai minyak global dan mendorong kenaikan harga energi. 

Isu ini menjadi krusial bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak mentah dunia, harga BBM dalam negeri, serta dampaknya terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pernyataan tersebut muncul di tengah memanasnya situasi pasca serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan serangan rudal dan penutupan jalur strategis distribusi minyak dunia.

Selat Hormuz Ditutup, Pasokan Minyak Global Tertekan

Penutupan Selat Hormuz oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menjadi titik krusial dalam eskalasi konflik ini. Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur utama distribusi minyak mentah dunia, dengan porsi signifikan dari total perdagangan minyak global melintas di kawasan tersebut.

Airlangga menegaskan bahwa gangguan di jalur ini akan berdampak langsung pada suplai minyak. “Tentu kalau Iran sudah pasti yang terganggu adalah suplai minyak, dan suplai minyak itu karena Selat Hormuz kan terganggu. Belum juga Red Sea. Jadi kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlangsung,” ujar Airlangga di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Tak hanya Hormuz, kawasan Laut Merah juga sebelumnya mengalami gangguan akibat ketegangan regional. Kombinasi dua jalur strategis yang terganggu meningkatkan risiko lonjakan harga minyak global dalam waktu singkat.

Serangan Balasan dan Dampaknya ke Energi Global

Situasi memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil.

Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari menyatakan, sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta menargetkan infrastruktur militer AS di kawasan Timur Tengah. IRGC kemudian mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (28/2/2026). “Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," ujarnya.

Teranyar, IRGC mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker milik AS dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz menggunakan rudal hingga terbakar. Dalam pernyataan resmi yang dikutip Xinhua, mereka juga menyebut menargetkan instalasi militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Amankan Impor dari Luar Timur Tengah

Menghadapi risiko gangguan pasokan, pemerintah Indonesia bergerak cepat. Airlangga menyebut pemerintah telah mengantisipasi potensi krisis energi dengan mengamankan suplai minyak dari luar kawasan Timur Tengah.

Langkah konkret dilakukan melalui nota kesepahaman (MoU) antara PT Pertamina (Persero) dengan sejumlah perusahaan migas asal Amerika Serikat, termasuk Chevron Corporation dan ExxonMobil.

“Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain,” kata Airlangga.

Diversifikasi sumber impor ini dinilai penting untuk menjaga ketahanan energi nasional serta meminimalkan risiko lonjakan harga BBM domestik.

Airlangga mengakui bahwa konflik geopolitik secara historis mendorong kenaikan harga energi, seperti yang terjadi saat perang Rusia-Ukraina. Namun, ia menilai tekanan kali ini masih berpotensi tertahan apabila suplai global meningkat.

“Otomatis (BBM) akan naik, sama seperti saat perang Ukraina kan naik. Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat, dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya,” tuturnya.

Peningkatan produksi dari Amerika Serikat serta tambahan kapasitas dari negara-negara anggota OPEC berpotensi menjadi faktor penyeimbang harga minyak dunia.

Logistik hingga Pariwisata Terancam

Selain energi, Airlangga mengingatkan bahwa dampak konflik tidak hanya terbatas pada minyak. Sektor logistik, transportasi, hingga pariwisata berisiko terdampak jika konflik berlangsung lama.

“Balik lagi kita monitor saja bahwa perang ini lama, atau perang 12 hari, atau perang seberapa jauh.”

Durasi dan intensitas konflik menjadi variabel kunci yang akan menentukan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi global dan menyiapkan langkah penyesuaian kebijakan bila diperlukan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.