Akurat
Pemprov Sumsel

Waspadai Penurunan Surplus Dagang dengan Iran dan Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan RI

Yosi Winosa | 7 Maret 2026, 05:37 WIB
Waspadai Penurunan Surplus Dagang dengan Iran dan Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan RI
Penutupan Selat Hormuz

AKURAT.CO Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede menilai ada risiko lebih besar akibat penutupan Selat Hormuz.

Ketimbang mengkhawatirkan penurunan surplus dagang, kenaikan harga minyak, biaya angkut laut, dan membengkaknya ongkos distribusi lebih berbahaya bagi perekononian Indonesia, khususnya pada neraca transaksi berjalan.

"Kenaikan harga minyak akan memperbesar impor energi, menambah beban biaya angkut Indonesia dan memperburuk neraca transaksi berjalan," ujar Josua kepada Akurat.co, Jumat (6/3/2026) malam.

Baca Juga: Surplus Dagang RI-Iran Bakal Turun, Perlu Diversifikasi ke Pasar Ini

Asal tahu, transaksi berjalan RI di Kuartal IV-2025 berbalik defisit USD2,5 miliar setara 0,7% PDB, dibanding kuartal sebelumnya yang surplus US4 miliar atau 1,1%% PDB.

Defisit dipicu penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas, meningkatnya defisit neraca perdagangan migas serta tingginya defisit neraca jasa akibat biaya transportasi asing dan impor jasa keuangan yang besar.

Dari sisi perdagangan, nilainya dengan Iran relatif kecil dibanding total keseluruhan ekpor impor Indonesia dengan mitra. Sebagai gambaran, ekspor nonmigas RI ke Iran di 2025 sebesar USD249,1 juta dari total ekspor RI di 2025 sebesar USD282,91 miliar.

Sementara impor nonmigas dari Iran hanya USD8,4 juta, dari total impor RI di 2025 sebesar USD241,86 miliar. Surplus dagang dengan Iran di 2025 pun, hanya USD240,7 juta dari total surplus dagang RI sebesar USD41,05 miliar. Artinya, porsi perdagangan dengan Iran masih sangat kecil.

"Untuk nilai ekspor impor Indonesia dengan Iran, arahnya memang lebih mungkin turun bila gangguan berlarut. Tapi artinya dari sisi size, tidak akan terlalu besar menekan surplus dagang nasional. Risiko yang jauh lebih penting justru datang dari kenaikan harga minyak, naiknya biaya angkut laut, dan membengkaknya ongkos distribusi," tutur Josua.

Perluasan Pasar dan Alternatif Sumber Impor Energi

Lebih lanjut, Josua melihat hubungan dagang Indonesia dengan Iran ke depan kemungkinan tidak akan terputus, tetapi berisiko melemah dalam jangka dekat.

Tekanan utamanya datang dari terganggunya jalur pengiriman di Selat Hormuz, bukan semata-mata dari permintaan Iran. Dua kapal milik Pertamina misalnya, tertahan di kawasan itu, dan pemerintah sudah menyiapkan pengalihan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke AS.

Pada saat yang sama, lalu lintas pelayaran di Hormuz tersendat, ratusan kapal tertahan, dan biaya asuransi melonjak tajam. Karena jalur ini dilalui sekitar seperlima atau 20% perdagangan minyak dunia, gangguan di sana akan sangat cepat menaikkan biaya angkut dan memperbesar ketidakpastian perdagangan.

Karena itu, perluasan pasar oleh pemerintah diperlukan agar ekspor Indonesia tidak terlalu bergantung pada kawasan yang sedang terguncang dan agar tekanan pada surplus perdagangan, tidak datang dari banyak arah sekaligus.

Komoditas yang paling rentan yakni buah-buahan karena sangat peka terhadap keterlambatan pengiriman, disusul kendaraan dan minyak nabati yang juga bergantung pada kelancaran pelayaran dan biaya distribusi.

"Jadi, bila konflik cepat mereda, penurunan perdagangan dengan Iran kemungkinan hanya sementara. Tetapi bila gangguan berkepanjangan, ekspor Indonesia ke Iran berpotensi turun lebih dalam daripada impornya sehingga surplus perdagangan Indonesia dengan Iran menyempit," jelas Josua.

Terkait kebijakan pemerintah, lanjut Josua, langkah yang paling tepat adalah memperluas tujuan ekspor, mencari pasar pengganti untuk komoditas yang selama ini masuk ke Iran, dan sekaligus mempercepat pemencaran sumber impor energi serta jalur pasok.

"Arah ini juga sejalan dengan APBN 2026 yang menekankan pembukaan akses pasar ekspor baru di tengah ketidakpastian global," tutur Josua.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.