Akurat
Pemprov Sumsel

ULN Januari 2026 Naik 1,7 Persen ke USD434,7 Miliar

Esha Tri Wahyuni | 16 Maret 2026, 16:36 WIB
ULN Januari 2026 Naik 1,7 Persen ke USD434,7 Miliar
Ilustrasi ULN Januari 2026

AKURAT.CO Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali menjadi sorotan pada awal 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi ULN nasional pada Januari 2026 mencapai USD434,7 miliar.

Angka ini tumbuh 1,7% secara tahunan (year on year/yoy). Meski meningkat, laju pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencapai 1,8%. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh dinamika utang pada sektor publik.

Baca Juga: ULN November 2025 Turun ke USD423,8 Miliar, Rasio Utang ke PDB Kian Sehat

“Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh ULN sektor publik,” ujar Ramdan dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Meski pertumbuhan melambat, Bank Indonesia menilai kondisi ULN Indonesia masih dalam kategori terkendali dan sehat, terutama karena dominasi utang jangka panjang yang relatif stabil.

ULN Pemerintah Tumbuh 5,6 Persen, Didukung Kepercayaan Investor

Sementara itu, utang luar negeri pemerintah tercatat mengalami peningkatan pada awal tahun ini. Posisi ULN pemerintah pada Januari 2026 mencapai USD216,3 miliar, atau tumbuh 5,6% secara tahunan.

Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang tercatat 5,5%.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kenaikan tersebut dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni penarikan pinjaman luar negeri untuk mendukung proyek pemerintah serta aliran modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

Ramdan mengatakan kondisi ini mencerminkan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia masih terjaga, meskipun pasar keuangan global sedang menghadapi ketidakpastian.

“Penarikan pinjaman luar negeri digunakan untuk mendukung pelaksanaan program dan proyek pemerintah, serta didorong oleh aliran masuk modal asing pada SBN internasional,” kata Ramdan.

Menurutnya, pemerintah tetap mengelola utang secara cermat, terukur, dan akuntabel, terutama untuk mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

ULN Pemerintah Banyak Lari ke Sektor Sosial

Jika dilihat dari penggunaannya, utang luar negeri pemerintah banyak dialokasikan untuk berbagai sektor strategis yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik.

Bank Indonesia mencatat sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial menjadi penerima terbesar dengan porsi 22% dari total ULN pemerintah.

Selain itu, dana utang juga digunakan untuk administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,3%; sektor pendidikan sebesar 16,2%; konstruksi sebesar 11,6% serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,5%

Struktur utang pemerintah juga relatif aman karena didominasi utang jangka panjang, dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah.

Dominasi utang jangka panjang ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas fiskal dan risiko pembiayaan jangka pendek.

Berbeda dengan pemerintah, utang luar negeri sektor swasta justru mengalami penurunan pada awal 2026. Bank Indonesia mencatat posisi ULN swasta turun dari USD194 miliar pada Desember 2025 menjadi USD193 miliar pada Januari 2026.

Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi sebesar 0,7%, lebih dalam dibandingkan penurunan 0,2% pada bulan sebelumnya. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya utang luar negeri pada perusahaan non-keuangan (nonfinancial corporations).

Meski demikian, beberapa sektor ekonomi masih mendominasi struktur ULN swasta.

4 Sektor Penyumbang Terbesar ULN Swasta

Bank Indonesia mencatat bahwa sebagian besar utang luar negeri swasta berasal dari beberapa sektor utama perekonomian. Empat sektor terbesar tersebut meliputi industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas serta pertambangan dan penggalian

Keempat sektor tersebut memiliki pangsa gabungan mencapai 80,1% dari total ULN swasta. Sama seperti utang pemerintah, ULN swasta juga didominasi oleh utang jangka panjang, dengan porsi mencapai 76,2% dari total ULN swasta.

Bank Indonesia menilai kondisi utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang aman.

Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang menurun menjadi 29,6% pada Januari 2026, dibandingkan 29,9% pada Desember 2025.

Selain itu, struktur utang juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa 85,6% dari total ULN. Ramdan menegaskan bahwa indikator tersebut menunjukkan struktur utang luar negeri Indonesia tetap sehat.

“Struktur ULN Indonesia tetap sehat dan didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya,” ujar Ramdan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.