Akurat
Pemprov Sumsel

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 di Hari ke-16 Perang AS-Iran

Esha Tri Wahyuni | 16 Maret 2026, 18:20 WIB
Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 di Hari ke-16 Perang AS-Iran
Rupiah melemah ke Rp16.997

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah nyaris mendekati level Rp17.000 per USD pada perdagangan terbaru. Pada penutupan perdagangan Senin (16/3/2026), rupiah merosot 39 poin (0,23%) ke Rp16.997.

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus di atas USD100 per barel. 

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap potensi inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan, kombinasi faktor eksternal seperti konflik Iran–Amerika Serikat–Israel, memanasnya situasi di Selat Hormuz, hingga potensi kenaikan suku bunga The Fed menjadi tekanan utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. 

Baca Juga: Menkeu: Rupiah Tahan Tekanan Global, Depresiasi Hanya 0,3%

Selain faktor global, pasar juga mencermati dinamika fiskal domestik yang berpotensi memperlebar defisit anggaran akibat lonjakan harga energi.

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah mengalami tekanan signifikan pada perdagangan hari ini dan semakin dekat dengan batas psikologis Rp17.000 yang selama ini menjadi perhatian pasar.

“Rupiah hari ini ditutup melemah mendekati Rp17.000 per dolar AS. Tadi sempat berada di Rp17.006 sebelum akhirnya bergerak di sekitar Rp16.997,” kata Ibrahim di Jakarta, Senin (16/3/2026).

Ibrahim menilai pelemahan ini bukan semata dipicu faktor domestik, melainkan dipengaruhi situasi global yang sedang tidak stabil, terutama terkait konflik geopolitik di Timur Tengah.

Konflik Timur Tengah Menjadi  Pemicu

Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah. Situasi di Selat Hormuz dilaporkan semakin memanas setelah pasukan marinir Amerika Serikat mendekati wilayah tersebut.

Menurut Ibrahim, kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas.

“Ketegangan di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, semakin memanas. Pasukan marinir Amerika Serikat sudah mendekati wilayah tersebut untuk melakukan serangan darat,” ujarnya.

Selain itu, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel juga terus berlangsung dengan serangan balasan yang terjadi secara beruntun. Situasi ini menandakan Iran masih memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan.

“Serangan timbal balik antara Iran, Amerika, dan Israel terus terjadi. Ini mengindikasikan bahwa Iran masih mampu memberikan perlawanan,” kata Ibrahim.

Ultimatum Politik dan Serangan di Timur Tengah Tambah Tekanan

Tidak hanya konflik militer, dinamika politik juga ikut memperkeruh situasi kawasan. Ibrahim menyebut adanya ultimatum yang disampaikan mantan Presiden AS Donald Trump terkait pemimpin baru Iran.

Menurutnya, pernyataan tersebut semakin meningkatkan ketegangan geopolitik dan membuat pasar global menjadi lebih berhati-hati.

“Trump bahkan memberikan ultimatum kepada siapa pun yang bisa menangkap atau membunuh pemimpin baru Iran dengan imbalan besar. Ini membuat situasi di Timur Tengah semakin panas,” jelasnya.

Selain itu, sejumlah wilayah yang memiliki kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah, seperti Irak hingga Uni Emirat Arab, juga dilaporkan tidak luput dari serangan.

“Wilayah yang berkaitan dengan Amerika di Timur Tengah, seperti Irak dan Dubai di Uni Emirat Arab, juga ikut terdampak serangan,” tambahnya.

Lonjakan Harga Minyak Dunia di Atas USD100

Memanasnya konflik di Timur Tengah berdampak langsung pada pasokan energi global. Harga minyak mentah dunia dilaporkan telah menembus level USD100 per barel dan berpotensi terus meningkat.

Menurut Ibrahim, lonjakan harga energi ini dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. “Kenaikan harga minyak mentah yang sudah berada di atas USD100 berpotensi mendorong inflasi global,” ujarnya.

Bahkan, ia memperkirakan harga minyak berpotensi naik lebih tinggi jika konflik tidak segera mereda. “Masih ada kemungkinan harga minyak mentah bisa naik hingga kisaran USD130 per barel,” kata Ibrahim.

Kebijakan Suku Bunga The Fed

Selain konflik geopolitik, pelaku pasar juga mencermati agenda pertemuan bank sentral Amerika Serikat dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut akan membahas arah kebijakan suku bunga di tengah tekanan inflasi global.

Menurut Ibrahim, lonjakan harga energi bisa membuat bank sentral AS mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga acuannya.

“Minggu depan bank sentral Amerika akan kembali bertemu membahas suku bunga. Dengan kenaikan harga minyak yang tinggi, ada kemungkinan inflasi meningkat,” ujarnya.

Jika inflasi terus meningkat, lanjut Ibrahim, The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya kembali. “Dengan kondisi tersebut, kemungkinan besar suku bunga akan tetap dipertahankan atau bahkan dinaikkan,” kata dia.

Kebijakan suku bunga tinggi di AS biasanya memperkuat dolar AS dan memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Beberapa lembaga energi global sebenarnya telah mencoba meredam lonjakan harga minyak dengan meningkatkan pasokan. Badan Energi Internasional (IEA) disebut berencana menggelontorkan sekitar 400 juta barel minyak ke pasar.

Selain itu, Rusia juga diperkirakan akan menambah pasokan minyak mentah global. Namun menurut Ibrahim, langkah tersebut belum cukup untuk menurunkan harga minyak secara signifikan.

“Walaupun IEA akan menggelontorkan sekitar 400 juta barel minyak dan Rusia juga menambah pasokan, itu belum mampu menurunkan harga minyak,” jelasnya.

Hal ini menunjukkan pasar energi global masih berada dalam kondisi ketat akibat ketidakpastian geopolitik.

Risiko Defisit Anggaran Indonesia

Kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi berdampak pada kondisi fiskal Indonesia. Pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk menahan dampak kenaikan energi.

Menurut Ibrahim, kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap defisit anggaran. “Kenaikan harga minyak mentah bisa berdampak terhadap defisit anggaran pemerintah,” ujarnya.

Beberapa ekonom bahkan menyarankan agar pemerintah tetap menjaga defisit anggaran di kisaran 3% dari produk domestik bruto (PDB). “Ada pengamat yang mengatakan defisit anggaran sebaiknya dijaga di 3 persen,” kata Ibrahim.

Namun di sisi lain, pemerintah juga memiliki program belanja yang perlu tetap dijalankan sehingga muncul perdebatan mengenai ruang fiskal yang tersedia.

Proyeksi Rupiah Besok

Melihat kombinasi tekanan global dan domestik, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan cenderung melemah dalam jangka pendek.

Menurutnya, pasar masih menunggu perkembangan konflik geopolitik serta keputusan kebijakan moneter dari Amerika Serikat. “Dalam perdagangan besok kemungkinan besar rupiah masih akan melemah di kisaran Rp16.990 hingga Rp17.050 per USD,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.