Akurat
Pemprov Sumsel

Tekanan Perang AS-Iran, Bos BI: Konsumsi dan Investasi Kunci Pertumbuhan Berkualitas

Esha Tri Wahyuni | 17 Maret 2026, 23:48 WIB
Tekanan Perang AS-Iran, Bos BI: Konsumsi dan Investasi Kunci Pertumbuhan Berkualitas
Gubernur BI, Perry Warjiyo

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menegaskan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya risiko global akibat perang Timur Tengah.

Dalam situasi ketidakpastian global, stabilitas ekonomi nasional dinilai sangat bergantung pada kekuatan permintaan domestik, termasuk konsumsi rumah tangga dan investasi.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyebutkan, dampak konflik geopolitik terhadap perekonomian global dan pasar keuangan berpotensi menekan kinerja ekonomi nasional.

Baca Juga: Tekanan Perang AS-Iran, BI Waspadai Pelebaran Defisit Transaksi Berjalan

Karena itu, diperlukan respons kebijakan yang tepat dan terukur agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga di kisaran 4,9% hingga 5,7% pada 2026.

Perang Timur Tengah Jadi Risiko Baru Ekonomi Global

Bank Indonesia secara eksplisit mengakui bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor eksternal utama yang perlu diwaspadai. Gejolak ini berpotensi memicu tekanan pada pasar keuangan global, volatilitas harga energi, hingga gangguan rantai pasok.

“Ke depan, dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah perlu diantisipasi dan direspons secara tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Selasa (17/3/2026).

Kondisi ini membuat Indonesia harus memperkuat daya tahan ekonomi domestik agar tidak terlalu bergantung pada kondisi eksternal.

Konsumsi Rumah Tangga dan Investasi Jadi Penopang Utama

BI menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 akan tetap kuat, terutama didorong oleh konsumsi domestik. Momentum ini diperkuat oleh peningkatan belanja masyarakat saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN).

Kenaikan konsumsi juga didukung oleh faktor musiman seperti pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), penyaluran bantuan sosial, serta berbagai insentif pemerintah yang meningkatkan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, investasi diperkirakan tetap tumbuh positif. Hal ini didorong oleh percepatan belanja pemerintah, termasuk proyek strategis seperti pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serta investasi melalui Danantara.

Selain faktor fundamental, BI menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pelaku ekonomi. Baik rumah tangga maupun dunia usaha memiliki peran krusial dalam menjaga siklus pertumbuhan tetap berjalan.

“Keyakinan pelaku ekonomi, baik rumah tangga maupun dunia usaha, perlu terus dijaga agar dapat mendorong konsumsi dan investasi,” kata Perry.

Kepercayaan ini menjadi indikator penting dalam menentukan arah belanja dan ekspansi usaha di tengah ketidakpastian global.

Sinergi Kebijakan Jadi Strategi Utama BI

Untuk merespons dinamika global, BI memastikan akan terus memperkuat bauran kebijakan yang mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Langkah ini dilakukan secara terintegrasi dengan kebijakan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan yang bersinergi erat dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi,” tegas Perry.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.