Akurat
Pemprov Sumsel

BI Siapkan 3 Skenario Jaga Rupiah Imbas Konflik Timur Tengah

Esha Tri Wahyuni | 18 Maret 2026, 08:30 WIB
BI Siapkan 3 Skenario Jaga Rupiah Imbas Konflik Timur Tengah
Ilustrasi Mata Uang Rupiah

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menyiapkan langkah antisipatif terhadap tekanan global dengan mengkalibrasi instrumen intervensi rupiah, menyusul eskalasi perang di Timur Tengah yang berdampak pada pasar keuangan dan harga komoditas global.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan, bank sentral telah menyiapkan tiga skenario respons berdasarkan pergerakan harga minyak dunia rendah, menengah, hingga tinggi yang akan menentukan arah kebijakan stabilisasi nilai tukar.

“Kami terus mengoptimalkan di moneter tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga: Penukaran Uang Baru PINTAR BI Periode 3 Apakah Ada? Ini Penjelasan Resmi Bank Indonesia

Secara teknis, BI mengandalkan strategi triple intervention, yakni intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Kebijakan ini ditopang oleh kecukupan cadangan devisa yang menjadi bantalan utama stabilitas eksternal Indonesia.

BI mencatat, eskalasi konflik geopolitik telah berdampak luas terhadap indikator ekonomi global. Proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026 direvisi turun menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,2%.

Di sisi lain, inflasi global meningkat dari 3,8% menjadi 4,1%. Kenaikan inflasi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global, terutama di negara maju.

Baca Juga: Apa Peran Bank Indonesia dalam Pengawasan Transaksi Digital?

Selain itu, tekanan juga datang dari pasar keuangan. BI mengungkapkan telah terjadi aliran modal keluar (capital outflow) dari negara emerging market, termasuk Indonesia, seiring penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.

Kondisi ini berdampak langsung pada nilai tukar rupiah dan pasar obligasi domestik.

“Dampak perang Timur Tengah ini memengaruhi banyak faktor, mulai dari harga minyak, inflasi global, hingga aliran modal dan yield US Treasury. Karena itu kami menakar respons kebijakan secara menyeluruh,” kata Perry.

Dalam konteks kebijakan suku bunga, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75% pada RDG Maret 2026. Suku bunga deposit facility dan lending facility juga tetap masing-masing di level 3,75% dan 5,50%.

Keputusan ini diambil sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 2,5±1% pada periode 2026–2027.

Perry menegaskan, perubahan sikap kebijakan ini juga tercermin dari dihilangkannya sinyal penurunan suku bunga dalam pernyataan resmi BI.

“Kemungkinan penurunan suku bunga kami hilangkan karena fokus kami saat ini adalah menjaga stabilitas melalui intervensi dan kecukupan cadangan devisa,” ujarnya.

Secara historis, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin sejak September 2024, termasuk 125 basis poin sepanjang 2025. Namun sejak Oktober 2025, BI memilih menahan suku bunga untuk merespons dinamika global yang semakin tidak pasti.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.