Akurat
Pemprov Sumsel

Macet, MLFF dan Geliat Ekonomi Mudik Lebaran 2026

Yosi Winosa | 20 Maret 2026, 05:31 WIB
Macet, MLFF dan Geliat Ekonomi Mudik Lebaran 2026
Suasana Mudik Lebaran 2026 di Ruas Tol Cikampek

AKURAT.CO "Dari Depok juga pak, kena macet enggak tadi?," tanya Rahman, seorang pemudik asal Depok kepada pemudik lainnya saat beristirahat di Rest Area Travoy KM 207 A Palikanci (Palimanan-Kanci), Kamis (19/3/2026) siang.

"Iya pak, aduh macetnya pak, parah. Saya tadi berangkat jam 23.23, ini baru sampai di sini jam 11 siang (perjalanan sekitar 12 jam). Bapak berangkat jam berapa memang dari rumah?" timpal Zulfi, pemudik Lebaran 2026 lainnya di lokasi.

"Oh kalau saya tadi berangkat jam 7.15. Kebetulan lewat tol Cimanggis-Cibitung jadi langsung tembus di lajur contra flow Cikampek," tandasnya.

Baca Juga: Macet Parah di Tol MBZ, Kakorlantas Bongkar Penyebab Tak Terduga Saat Arus Mudik

Obrolan tersebut seakan mempertegas kepadatan lalu lintas jalan tol Trans Jawa di momen mudik Lebaran 2026. Terlepas dari puncak atau tidaknya waktu yang mereka pilih untuk menempuh perjalanan mudik, masalah kemacetan ini tak bisa diabaikan.

Sebelumnya beredar video viral yang diunggah akun IG Etalasebintaro yang menyuarakan keluh kesahnya menempuh perjalanan 3 jam dan masih stuck di jalan tol MBZ.

"GILAAAAKKKKK. Mudik 18 Maret jam 1.41 pagi dari Tangsel baru sampai KM57 di jam 5 pagi," keluhnya.

Jasa Marga, memang memprediksi puncak arus mudik Lebaran 2026 diperkirakan terjadi hari ini pada Rabu, 18 Maret 2026. Jasa Marga mencatat adanya lonjakan signifikan volume kendaraan mudik Lebaran 2026, di mana hingga H-3 (18/3/2026), dimana hampir 1,5 juta kendaraan meninggalkan Jabotabek, naik 30,1% dari kondisi normal.

Jasa Marga juga mencatat puncak arus mudik mencapai 270.315 kendaraan dalam sehari, naik 4,62% dari puncak tahun lalu, dengan total proyeksi 3,5 juta kendaraan melintas selama periode mudik

Pemerintah melalui Kemenhub juga merekaya sedemikian rupa lalu lintas tol Trans Jawa agar tetap bisa dilewati, misalnya lewat kontra flow dan one way nasional di jalur tol Jakarta-Cikampek sampai dengan KM 414 ruas tol Kalikangkung.

"Ini merupakan salah satu bentuk kehadiran negara, di mana kami sebagai stakeholder dalam penyelenggaraan angkutan Lebaran, berupaya untuk melakukan hal yang terbaik," ujar Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi.

Antrean panjang juga turut dirasakan pemudik yang melewati tol Trans Sumatra. Ramdani, pemudik asal Lampung misalnya, mengaku perjalanan menuju Lampung tidak sepenuhnya mulus.

Ia sempat terjebak kemacetan panjang di jalur lintas Sumatera, tepatnya pada ruas Jambi-Palembang, Senin (16/3/2026) pagi. Imbasnya, jika biasanya perjalanan hanya memakan waktu sekitar 3 jam dari Jambi ke Palembang, kali ini ia harus menempuh hingga 12 jam.

Hal yang sama dirasakan Khadafi, pemudik asal Tanggerang yang hendak pulang kampung ke Medan. Ia terjebak macet di Jalan Lintas Timur (Jalintim) Sumatera Palembang-Jambi selama 24 jam saat volume kendaraan mulai menumpuk di jalur tersebut sejak pukul 18.00 WIB, Senin (17/3/2026).

GB Tol Pembayaraan Ditengarai Jadi Sumber Kemacetan

Meski sebagian pemudik mewajarkan momen macet-macetan mengingat ini sudah menjadi "tradisi tahunan" di Indonesia, namun tak sedikit pula yang menyesalkan masalah klasik yang terus berulang ini.

Pengamat Transportasi Publik dari Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal, Anton Budiharjo menilai persoalan utama kemacetan di Jalur Tol Trans Jawa maupun Sumatra bukan sekadar lonjakan jumlah kendaraan, melainkan hambatan struktural pada sistem transaksi di gerbang tol.

Sistem pembayaran berbasis tapping e-money dinilai menjadi titik krusial yang menurunkan kapasitas jalan secara signifikan. Dalam teori lalu lintas, gerbang tol merupakan “bottleneck” atau titik penyempitan kapasitas akibat kendaraan harus melambat bahkan berhenti.

“Dengan waktu layanan per kendaraan sekitar 4–5 detik, ketika volume lalu lintas meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat saat mudik, akumulasi antrean menjadi tidak terhindarkan,” ujarnya di Jombang, Kamis (19/3/2026) malam.

Ia menambahkan, selisih waktu beberapa detik saja dalam kondisi arus puncak dapat berkembang menjadi antrean panjang yang bahkan meluber hingga ke lajur utama. Dampaknya, arus lalu lintas terganggu secara sistemik dan kepadatan tidak hanya terjadi di gerbang tol, tetapi juga merambat ke ruas jalan sebelumnya.

Menurut Anton, solusi untuk mengatasi persoalan ini perlu dibagi menjadi jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek, optimalisasi operasional menjadi langkah utama, seperti penambahan gardu tol, termasuk gardu satelit di titik-titik krusial seperti Cikampek Utama dan Kalikangkung.

Anton mencatat, rekayasa lalu lintas seperti contraflow, pengaturan lajur, hingga kebijakan open barrier saat puncak arus memang efektif untuk mengurai antrean. Selain itu, penambahan mobile reader serta pengelolaan distribusi kendaraan ke rest area juga krusial agar tidak terjadi penumpukan di satu titik.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.