Akurat
Pemprov Sumsel

Trump Tunda Serang Infrastruktur Iran, Mata Uang Emerging Menguat

Esha Tri Wahyuni | 24 Maret 2026, 11:40 WIB
Trump Tunda Serang Infrastruktur Iran, Mata Uang Emerging Menguat
ilustrasi emerging market

AKURAT.CO Sebagian besar mata uang negara berkembang (emerging markets/EM) menguat pada perdagangan terbaru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan adanya pembicaraan dengan Iran serta penangguhan serangan terhadap infrastruktur energi selama lima hari.

Pernyataan tersebut langsung menekan harga minyak global hingga turun sekitar 11% dan melemahkan dolar AS.

Data pasar menunjukkan peso Chili, forint Hungaria, dan real Brasil memimpin penguatan. Indeks mata uang emerging markets yang dilacak MSCI sempat naik hingga 0,8% dalam sesi perdagangan sebelum ditutup menguat 0,3% akibat penyesuaian akhir hari.

Namun, secara terpisah, Indeks Pasar Berkembang MSCI tercatat masih turun sekitar 3%, mencerminkan tekanan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Garda Revolusi Iran Tantang Amerika Tunjukkan Kapal Induknya di Medan Perang

Trump menyebut penundaan serangan dilakukan setelah “percakapan produktif” dengan Iran. Ia juga mengindikasikan bahwa Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak global berpotensi dibuka kembali jika negosiasi berjalan sukses, bahkan membuka kemungkinan pengelolaan bersama.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Iran dan sejumlah media lokal, yang menyatakan tidak ada pembicaraan resmi yang sedang berlangsung. Di sisi lain, Israel dilaporkan masih melanjutkan serangan ke wilayah Iran, menambah ketidakpastian geopolitik di kawasan.

Meski demikian, pasar merespons cepat sinyal de-eskalasi tersebut. Analis makro emerging markets Wells Fargo, Alvaro Vivanco, menilai penguatan mata uang EM sebagai koreksi wajar setelah volatilitas ekstrem sebelumnya.

“Pergerakan harga sebelumnya sangat ekstrem,” ujarnya dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2026).

Dirinya menambahkan, jika de-eskalasi berlanjut, strategi short dolar terhadap peso Chili menjadi relevan dengan target di level 910.

Vivanco juga menyoroti ekspektasi suku bunga di Amerika Latin yang dinilai terlalu agresif.

Baca Juga: Iran: Mundurnya Kapal Induk USS Gerald Ford Milik Amerika Bukti Kekosongan Kekuatan Militer AS

“Kurva suku bunga menunjukkan jalur yang sangat agresif di Meksiko dan Brasil, yang tampaknya sulit dipertahankan bahkan jika harga minyak tetap tinggi,” katanya.

Dalam konteks data arus modal, tekanan terhadap aset emerging markets sebelumnya tercermin dari penarikan dana besar-besaran oleh investor global. Data menunjukkan arus keluar dari exchange-traded funds (ETF) yang berfokus pada saham dan obligasi EM mencapai US$3,82 miliar dalam dua minggu hingga 20 Maret. Ini menandakan investor sempat menghindari risiko akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Kondisi ini bukan tanpa preseden. Secara historis, konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah terutama yang melibatkan jalur energi seperti Selat Hormuz selalu berdampak langsung terhadap volatilitas harga minyak dan nilai tukar global. Lonjakan harga energi biasanya menekan negara importir minyak dan memperkuat dolar AS sebagai safe haven. Sebaliknya, ketika tensi mereda, aset berisiko seperti mata uang emerging markets cenderung rebound.

Dari sisi kebijakan moneter, perhatian pasar kini tertuju pada respons bank sentral di negara berkembang terhadap lonjakan biaya energi dalam beberapa waktu terakhir. Di Afrika Selatan, rand menguat 1,4% seiring membaiknya sentimen risiko.

Menariknya, ekspektasi pasar berubah drastis: dari sebelumnya memperkirakan penurunan suku bunga, kini pelaku pasar justru memperkirakan empat kali kenaikan suku bunga sepanjang tahun ini.

Bank sentral Afrika Selatan diproyeksikan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pekan ini, namun memberi sinyal kebijakan yang lebih ketat. Ekspektasi serupa juga terlihat di Chili, Hungaria, dan Meksiko, di mana pasar mulai mengantisipasi siklus pengetatan lanjutan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.