Akurat
Pemprov Sumsel

Inflasi Jepang Turun ke Level Terendah Sejak 2022 di Tengah Tekanan Harga Energi

Esha Tri Wahyuni | 24 Maret 2026, 17:51 WIB
Inflasi Jepang Turun ke Level Terendah Sejak 2022 di Tengah Tekanan Harga Energi
Warga Jepang beraktivitas

AKURAT.CO Inflasi Jepang kembali menjadi sorotan setelah mencatat perlambatan signifikan pada awal 2026. Data terbaru menunjukkan inflasi Jepang Februari turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir, didorong oleh kebijakan subsidi energi pemerintah. 

Namun, di balik penurunan ini, tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Lonjakan harga minyak global akibat konflik geopolitik berpotensi membalikkan tren inflasi Jepang dalam waktu dekat. 

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru bagi pelaku pasar, otoritas moneter, hingga masyarakat yang masih menghadapi tekanan biaya hidup tinggi. Dengan dinamika tersebut, arah kebijakan Bank of Japan (BoJ) dan stabilitas ekonomi Jepang menjadi perhatian utama investor global.

Baca Juga: Yen Melemah, BOJ Tetap Tahan Suku Bunga

Inflasi Jepang Turun ke Level Terendah Sejak 2022

Data dari Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang menunjukkan bahwa indeks harga konsumen (CPI) inti yang tidak memasukkan harga makanan segar hanya naik 1,6% secara tahunan pada Februari 2026. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi ekonom sebesar 1,7% dan turun dari 2% pada bulan sebelumnya.

Ini menjadi level terendah sejak Maret 2022, sekaligus menandai pertama kalinya inflasi Jepang turun di bawah target 2% Bank of Japan dalam periode tersebut.

Sementara itu, inflasi utama yang mencakup seluruh komponen juga melambat menjadi 1,3%. Angka ini memperkuat sinyal bahwa tekanan harga secara umum mulai mereda, meski belum sepenuhnya stabil.

Subsidi Energi Jadi Faktor Utama Penekan Inflasi

Penurunan inflasi Jepang tidak terjadi secara alami, melainkan didorong oleh intervensi pemerintah melalui subsidi energi.

Biaya energi tercatat turun hingga 9,1%, dengan tarif listrik menjadi kontributor utama pelemahan. Kebijakan subsidi utilitas yang kembali diberlakukan sejak Januari 2026 terbukti efektif menahan lonjakan harga dalam jangka pendek.

Kepala Riset Ekonomi NLI Research Institute, Taro Saito, menegaskan bahwa faktor utama perlambatan ini berasal dari kebijakan tersebut. “Faktor terbesar perlambatan ini adalah dampak kebijakan subsidi utilitas pemerintah,” ujar Saito dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/3/2026).

Namun, ia juga mengingatkan bahwa efek ini bersifat sementara dan dapat berubah cepat jika kondisi global memburuk.

Inflasi Inti Masih Tinggi, Tekanan Harga Belum Hilang

Meski inflasi utama turun, indikator inflasi inti yang tidak memasukkan energi justru masih tinggi.

Data menunjukkan inflasi inti berada di level 2,5%, masih di atas target 2% Bank of Japan. Hal ini menandakan bahwa tekanan harga domestik terutama dari sektor jasa dan upah masih berlangsung.

Harga jasa tercatat naik 1,4% secara tahunan, mencerminkan adanya peningkatan biaya tenaga kerja. Di sisi lain, harga makanan memang melambat menjadi 5,7%, namun tetap berada di level tinggi.

Harga beras, yang sempat melonjak drastis hingga 101,7% pada Mei 2025, kini naik 17,1%. Meski melambat, angka ini masih menunjukkan tekanan signifikan terhadap konsumsi rumah tangga.

Lonjakan Harga Minyak Ancam Balikkan Tren Inflasi

Risiko terbesar bagi inflasi Jepang saat ini datang dari eksternal, khususnya lonjakan harga energi global.

Harga minyak tercatat naik sekitar 50% dibandingkan sebelum konflik geopolitik terbaru. Dampaknya, harga bensin di Jepang mencapai level tertinggi sejak 1990.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, Jepang menjadi rentan terhadap gejolak harga global. Kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi kembali naik dalam beberapa bulan ke depan.

“Inflasi inti berpotensi kembali mendekati 2 persen pada rilis data berikutnya akibat dampak konflik Iran,” kata Saito.

Ia menambahkan bahwa ekspektasi inflasi yang sebelumnya diperkirakan stabil kini mulai berubah.

Yen Melemah, Tekanan Inflasi Bisa Bertambah

Setelah rilis data inflasi, nilai tukar yen tercatat melemah ke level 158,56 per USD. Pelemahan mata uang ini memperburuk tekanan inflasi karena meningkatkan biaya impor, terutama energi dan bahan baku.

Yen bahkan mendekati level 160 per USD, yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah pada 2024. Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap harga domestik bisa semakin besar.

Bank of Japan Buka Peluang Naikkan Suku Bunga

Di tengah dinamika ini, Bank of Japan mulai mengisyaratkan perubahan arah kebijakan.

Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga pada pertemuan April 2026 menjadi opsi yang terbuka. Pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 63% untuk kenaikan suku bunga, berdasarkan pergerakan overnight index swaps.

Langkah ini dipertimbangkan untuk mengantisipasi risiko inflasi yang kembali meningkat, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar yen.

Beban Fiskal dan Ketergantungan Subsidi Jadi Sorotan

Kebijakan subsidi energi memang efektif menahan inflasi, tetapi menimbulkan konsekuensi fiskal. Jepang saat ini memiliki beban utang publik terbesar di dunia, sehingga keberlanjutan subsidi menjadi perhatian investor.

Pemerintah di bawah Perdana Menteri Sanae Takaichi sebelumnya memenangkan pemilu dengan janji menekan biaya hidup melalui kebijakan fiskal, termasuk subsidi energi.

Namun, pertanyaannya kini adalah seberapa lama kebijakan ini bisa dipertahankan tanpa membebani keuangan negara.

Proyeksi: Inflasi Jepang Bisa Naik Lagi dalam Waktu Dekat

Analis memperkirakan penurunan inflasi saat ini hanya bersifat sementara.

Jika harga minyak mentah bertahan di kisaran USD100 per barel hingga akhir April 2026, inflasi inti Jepang diprediksi bisa kembali naik ke level 2,5% pada Mei.

Hal ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi belum benar-benar selesai, melainkan hanya tertahan sementara oleh intervensi pemerintah.

“Pergerakan inflasi sangat bergantung pada respons pemerintah. Tanpa intervensi tambahan, biaya hidup akan terus meningkat selama konflik berlangsung,” ujar Saito.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.