Akurat
Pemprov Sumsel

Sempat ATL, Rupiah Pulih ke Rp16.994 di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Esha Tri Wahyuni | 8 April 2026, 13:37 WIB
Sempat ATL, Rupiah Pulih ke Rp16.994 di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran
Rupiah

AKURAT.CO Rupiah pulih 111 poin (0,65%) ke level Rp16.994 pada Rabu (8/4/2026), setelah sempat tersungkung ke level terendah (All Time Low/ ATL) Rp17.105.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan kesepakatan genjatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran selama dua minggu menjadi katalis baru bagi pergerakan pasar global.

Keputusan ini tak hanya meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berdampak langsung pada harga minyak dunia, indeks dolar AS, hingga penguatan nilai tukar rupiah. 

Baca Juga: IHSG Sesi I Menghijau 3,39 Persen di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang mendorong stabilitas sementara di pasar energi global. Kondisi ini menciptakan peluang bagi negara-negara importir energi, termasuk Indonesia terkait tekanan inflasi dan kurs.

Faktor Tak Terduga di Tengah Eskalasi

Ibrahim mengungkapkan, keputusan damai ini di luar ekspektasi pasar. “Ibrahim Assuaibi mengatakan, tak terduga tadi malam Trump dengan Iran melakukan perdamaian, menunda perang selama dua minggu ke depan yang diprakarsai oleh Pakistan. Ini di luar dugaan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Menurutnya, salah satu pemicu utama perubahan sikap Amerika Serikat adalah kemampuan militer Iran yang dinilai mampu melumpuhkan pesawat tempur canggih milik AS.

“Artinya Iran memiliki senjata yang cukup canggih yang bisa menjatuhkan pesawat-pesawat Amerika yang nilainya triliunan rupiah. Ini yang membuat Amerika sedikit ketakutan sehingga diadakan perundingan,” kata Ibrahim.

Harga Minyak Langsung Turun

Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan jalur distribusi energi global di Selat Hormuz, yang sebelumnya terancam terganggu akibat konflik.

“Salah satu isi kesepakatan adalah jalur Selat Hormuz dibuka kembali selama dua minggu, sehingga transportasi berjalan normal seperti sebelum konflik,” jelasnya.

Dampaknya langsung terasa di pasar energi global. “Dengan dibukanya Selat Hormuz, harga minyak langsung turun bebas setelah sebelumnya terus mengalami kenaikan,” lanjut Ibrahim.

Penurunan harga minyak ini berpotensi menekan biaya energi global dan membuka ruang penyesuaian harga BBM di berbagai negara.

Dolar Melemah, Rupiah Menguat Tajam

Tidak hanya minyak, efek domino juga terlihat pada pasar mata uang. Indeks dolar AS tercatat melemah tajam, yang kemudian mendorong penguatan rupiah.

“Ibrahim menyebut, indeks dolar melemah tajam dan berdampak terhadap penguatan rupiah, yang hari ini menguat hampir 100 poin,” katanya.

Ibrahim menilai penguatan ini wajar karena sentimen pasar yang membaik. “Genjatan senjata ini memberi ketenangan, sehingga negara-negara bisa kembali melakukan ekspor minyak. Ini berdampak pada stabilitas dan penguatan mata uang, termasuk rupiah,” ujarnya.

Harga Emas Berpotensi Melonjak ke Level Tertinggi

Di sisi lain, kondisi geopolitik yang masih belum sepenuhnya stabil justru mendorong kenaikan harga emas sebagai aset safe haven. “Ada kemungkinan besar harga emas dunia akan mendekati 5.000, bahkan bisa menuju 6.000 di akhir tahun,” kata Ibrahim.

Dirinya menambahkan, tren ini juga akan berdampak pada harga emas domestik. “Logam mulia berpotensi menuju level Rp3 juta per gram, meskipun rupiah menguat,” ujarnya.

Menurutnya, pergeseran preferensi investor global dari dolar ke emas menjadi faktor utama. “Bank sentral global mulai meningkatkan pembelian emas sebagai lindung nilai, menggantikan dominasi dolar,” jelasnya.

Suku Bunga The Fed Berpotensi Turun

Faktor lain yang turut memengaruhi pasar adalah potensi perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Ibrahim menyebut, dalam waktu dekat akan ada pergantian kepemimpinan di bank sentral AS, dari Jerome Powell ke Kevin Walsh, yang kemungkinan akan mendukung penurunan suku bunga,” ujarnya.

Penurunan harga energi akibat genjatan senjata dinilai dapat menekan inflasi di AS. “Jika harga minyak dan gas turun, inflasi akan stabil, dan itu membuka ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga,” katanya.

Dalam jangka pendek, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan terus menguat seiring stabilitas pasar. “Dalam dua minggu ini, rupiah kemungkinan besar akan menguat signifikan dan level 17.120 akan menjadi batas penguatan,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi ini bersifat sementara. “Awalnya saya melihat arah konflik ke perang terbuka di Selat Hormuz, namun genjatan senjata ini mengubah dinamika pasar secara cepat,” ujarnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.