Akurat
Pemprov Sumsel

Rupiah Menguat ke Rp17.012 di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Esha Tri Wahyuni | 8 April 2026, 21:58 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.012 di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran
Rupiah menguat

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu (8/4/2026), seiring pelemahan indeks dolar AS dan meredanya tensi geopolitik global. Rupiah menguat 93 poin (0,54%) ke level Rp17.012 per USD, dari posisi sebelumnya Rp17.105.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan fundamental domestik yang solid.  “Indeks dolar AS melemah, dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik terbaru,” ujarnya di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Persetujuan Gencatan Senjata AS jadi Faktor 

Dari faktor eksternal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui gencatan senjata sementara dengan Iran. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut pihaknya akan menangguhkan aksi militer selama dua minggu. “AS telah mencapai tujuan militer intinya,” tulis Trump.

Baca Juga: Sempat ATL, Rupiah Pulih ke Rp16.994 di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

Kesepakatan ini muncul menjelang tenggat waktu krusial pukul 20.00 ET yang sebelumnya dipandang pelaku pasar sebagai potensi eskalasi konflik besar. Bahkan sebelumnya, Trump sempat memperingatkan bahwa seluruh peradaban akan mati malam ini, jika Iran tidak mematuhi kesepakatan.

Gencatan senjata tersebut dimediasi oleh Pakistan dan mencakup jaminan keamanan jalur Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital sekitar 20% distribusi minyak global. Iran menyatakan kesiapan membuka jalur tersebut secara aman selama periode gencatan senjata, dengan syarat penghentian permusuhan dan koordinasi kapal dengan otoritas setempat.

Selain faktor geopolitik, pasar juga menanti rilis data inflasi Amerika Serikat melalui indeks harga konsumen (CPI) Maret 2026. Konsensus ekonom memperkirakan inflasi akan meningkat secara bulanan, terutama dipicu lonjakan harga energi. Kondisi ini berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Sentimen Internal

Dari dalam negeri, kinerja fiskal Indonesia turut menjadi penopang penguatan rupiah. Realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 tercatat mencapai Rp574,9 triliun, tumbuh 10,5% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini setara 18,2% dari target APBN 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.

Penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama dengan total Rp462,7 triliun atau naik 14,3% yoy. Rinciannya, penerimaan pajak mencapai Rp394,8 triliun dan kepabeanan serta cukai Rp67,9 triliun.

Secara lebih detail, Pajak Penghasilan (PPh) Badan tercatat Rp43,3 triliun (naik 5,4% yoy), PPh Orang Pribadi dan PPh 21 sebesar Rp61,3 triliun (naik 15,8% yoy), serta PPN dan PPnBM melonjak signifikan sebesar Rp155,6 triliun atau tumbuh 57,7% yoy. Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mengalami kontraksi 12,6% yoy menjadi Rp67,9 triliun.

Menurut Ibrahim, kombinasi faktor global yang mereda dan kinerja fiskal domestik yang kuat menjadi katalis utama pergerakan rupiah. “Pasar merespons positif realisasi pendapatan negara yang tumbuh solid pada kuartal pertama,” katanya.

Secara historis, nilai tukar rupiah sangat sensitif terhadap dinamika eksternal, khususnya kebijakan moneter AS dan risiko geopolitik global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah sebelumnya sempat menekan rupiah akibat lonjakan harga energi dan meningkatnya aversi risiko investor.

Penguatan rupiah memberikan dampak positif terhadap stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk menahan tekanan inflasi impor dan menjaga daya beli. Di sisi lain, pelaku pasar tetap mencermati volatilitas global, terutama menjelang rilis data inflasi AS dan arah kebijakan The Fed.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.