Akurat
Pemprov Sumsel

Rupiah ATL Rp17.105, Misbakhun: Cara BI Masih Sangat Konvensional

Esha Tri Wahyuni | 8 April 2026, 22:07 WIB
Rupiah ATL Rp17.105, Misbakhun: Cara BI Masih Sangat Konvensional
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah dengan penutupan di level Rp17.105/USD pada perdagangan Selasa (7/4/2026).

Pelemahan sebesar 70 poin ini memicu sorotan dari DPR yang menilai kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) masih terlalu konvensional dalam merespons tekanan pasar.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menyatakan, pendekatan BI dalam menjaga stabilitas rupiah perlu diperbarui seiring meningkatnya kompleksitas dinamika global. 

Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.012 di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS-Iran

“Saya menemukan cara BI menangani nilai tukar masih sangat konvensional dan terlalu hati-hati. Kebijakan-kebijakan moneter kita kalau menurut saya BI ini perlu membuka perspektif lebih kuat,” kata Misbakhun dalam diskusi Rapat Kerja Bersama Bank Indonesia di Kompleks Parlemen di Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Dikutip berdasarkan data dari Bloomberg, pelemahan rupiah ini menjadi posisi penutupan terendah sejak Indonesia merdeka.

Tekanan terjadi selama tiga hari berturut-turut, sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global, termasuk eskalasi konflik geopolitik yang mendorong harga minyak mentah dunia menembus di atas USD100 per barel.

BI Belum Cukup Adaptif Dengan Kondisi Pasar

Misbakhun mengungkapkan, BI sejatinya telah melakukan intervensi melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), hingga Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.

Namun, menurutnya pendekatan tersebut belum cukup adaptif terhadap perubahan kondisi pasar yang semakin dinamis. “Permasalahannya makin lama makin kompleks, dia [cara BI] tidak berubah,” ujarnya.

Dalam konteks kebutuhan likuiditas, Misbakhun menyoroti besarnya permintaan valuta asing nasional yang diperkirakan mencapai sekitar USD300 miliar per tahun.

Ia menilai Indonesia perlu mengambil langkah lebih strategis, termasuk membuka peluang kerja sama bilateral tingkat tinggi untuk memperkuat akses likuiditas valas. 

“Kenapa kita tidak melakukan high level meeting, misalnya Presiden ketemu dengan Trump, Pak Prabowo, untuk meminta liquidity itu?” kata dia.

Nilai Wajar Rupiah Rp.15.000/USD

Secara historis, tekanan terhadap rupiah bukan hal baru. Pada krisis keuangan Asia 1998, nilai tukar sempat terdepresiasi tajam akibat tekanan eksternal dan lemahnya fundamental domestik.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, volatilitas rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat, arus modal asing, serta ketegangan geopolitik.

Pelemahan rupiah saat ini dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi domestik. Misbakhun menyebut nilai wajar rupiah berada di kisaran Rp15.000/USD. 

“Pergerakan nilai tukar tidak sepenuhnya didasarkan pada fundamental, melainkan juga sangat dipengaruhi sentimen pasar,” ujarnya.

Dari sisi dampak, depresiasi rupiah berpotensi meningkatkan tekanan biaya pada sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan kurs akan langsung tercermin pada harga pokok produksi dan berisiko mendorong inflasi. 

“Begitu tekanan ini masuk ke harga pokok industri, mereka langsung menaikkan harga. Ini yang perlu konsolidasi lebih kuat,” imbuh Misbakhun.

Di pasar regional, pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan tekanan terhadap peso Filipina, di tengah kekhawatiran pelebaran defisit fiskal.

Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya justru mencatatkan penguatan, seperti won Korea Selatan, yuan China, baht Thailand, rupee India, dolar Singapura, yen Jepang, dolar Taiwan, dan dolar Hong Kong.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.