Akurat
Pemprov Sumsel

Selat Hormuz Jadi Bargaining Chip Baru, Akankah Trump Berdamai dengan Iran Atau Justru Berujung ke Oil Shock Terbesar?

Esha Tri Wahyuni | 17 April 2026, 23:12 WIB
Selat Hormuz Jadi Bargaining Chip Baru, Akankah Trump Berdamai dengan Iran Atau Justru Berujung ke Oil Shock Terbesar?
Ilustrasi kapal hendak melintasi Selat Hormuz

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan peluang kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran semakin dekat, di tengah upaya global membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang selama ini tersendat akibat konflik.

“Kami akan melihat apa yang terjadi. Tapi saya pikir kami sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2026).

Trump juga menyebut gencatan senjata dua pekan yang akan berakhir pekan depan berpotensi diperpanjang, meski ia menilai hal tersebut tidak diperlukan karena Teheran disebut sudah menginginkan kesepakatan.

Konflik Selat Hormuz

Konflik yang dimulai sejak 28 Februari 2026 antara AS-Israel dan Iran telah menewaskan ribuan orang serta memicu gangguan serius terhadap rantai pasok energi global.

Salah satu dampak paling signifikan adalah penutupan Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Setuju Serahkan Uranium, Negosiasi Damai Disebut Hampir Tercapai

Sebelum konflik, rata-rata lebih dari 130 kapal melintasi selat tersebut setiap hari. Namun sejak perang berlangsung, jumlahnya turun drastis menjadi hanya “segelintir kapal”.

Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund bahkan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pekan ini dan memperingatkan risiko resesi jika konflik berkepanjangan.

Di sisi diplomasi, sekitar 40 negara yang dipimpin Prancis dan Inggris menggelar pertemuan untuk menegaskan dukungan terhadap kebebasan navigasi di Selat Hormuz, dengan syarat permusuhan dihentikan.

Selat Hormuz selama ini menjadi chokepoint strategis dalam geopolitik energi global. Dalam sejarah, setiap gangguan di kawasan ini termasuk saat ketegangan Iran-AS pada 2019 selalu berdampak langsung pada lonjakan harga minyak dunia.

Konflik terbaru memperburuk situasi dengan blokade dari kedua pihak: Iran membatasi akses kapal asing, sementara Washington memberlakukan pembatasan terhadap kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran.

Sumber diplomatik menyebut negosiasi “jalur belakang” (backdoor diplomacy) menunjukkan kemajuan. Bahkan, kesepakatan awal berupa memorandum of understanding (MoU) disebut bisa ditandatangani dalam waktu dekat, dengan perjanjian komprehensif ditargetkan tercapai dalam 60 hari.

“Kedua pihak pada prinsipnya sudah sepakat. Detail teknis akan menyusul kemudian,” kata sumber yang terlibat dalam mediasi.

Salah satu isu krusial yang masih dinegosiasikan adalah program nuklir Iran. AS mengusulkan penghentian selama 20 tahun, sementara Iran menawarkan 3–5 tahun. Kompromi juga mulai terlihat terkait pengelolaan uranium yang diperkaya tinggi (HEU).

Optimisme menuju kesepakatan langsung tercermin di pasar keuangan global. Bursa saham dunia menguat dan mendekati rekor tertinggi, sementara harga minyak tetap tertahan di bawah USD100 per barel mengindikasikan meredanya kekhawatiran pasokan.

Bagi publik global, terutama negara importir energi seperti Indonesia, pembukaan kembali Selat Hormuz akan berdampak langsung pada stabilitas harga BBM dan inflasi.

Sebaliknya, jika negosiasi gagal, risiko “oil shock” terbesar dalam sejarah modern berpotensi terjadi, seiring terganggunya distribusi energi global.

Di kawasan regional, gencatan senjata paralel di Lebanon antara Israel dan kelompok Hezbollah juga mulai berlaku, meski masih dilaporkan terjadi pelanggaran sporadis.

Perkembangan diplomasi dalam beberapa hari ke depan menjadi krusial, terutama menjelang berakhirnya masa gencatan senjata. Jika kesepakatan tercapai, pembukaan kembali Selat Hormuz dapat menjadi titik balik pemulihan ekonomi global.

Namun, ketidakpastian tetap tinggi mengingat kompleksitas isu nuklir dan kepentingan geopolitik yang terlibat. Dunia kini menunggu apakah momentum diplomasi ini benar-benar mampu mengakhiri salah satu konflik paling berdampak terhadap ekonomi global dalam dekade terakhir.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.