Akurat
Pemprov Sumsel

Rupiah Jatuh 50 Poin ke Rp17.188 di Tengah Data Positif Tenaga Kerja AS dan Sinyal Damai AS-Iran

Esha Tri Wahyuni | 17 April 2026, 23:40 WIB
Rupiah Jatuh 50 Poin ke Rp17.188 di Tengah Data Positif Tenaga Kerja AS dan Sinyal Damai AS-Iran
Rupiah melemah lagi

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat (17/4/2026) di tengah penguatan indeks dolar AS yang dipicu sentimen global, terutama sinyal meredanya konflik di Timur Tengah dan solidnya data ekonomi Amerika Serikat.

Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup turun 50 poin ke level Rp17.188 per USD dari sebelumnya Rp17.138. Sepanjang hari, mata uang Garuda sempat tertekan hingga 60 poin.

Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.180–Rp17.220 per USD, dengan rentang mingguan di Rp17.150–Rp17.300.

Baca Juga: Blokade Iran Tekan Rupiah 16 Poin ke Level Rp17.143

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut, penguatan dolar AS didorong kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi. 

“Indeks dolar AS menguat seiring optimisme bahwa konflik Timur Tengah akan segera mereda, terutama setelah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel serta peluang pertemuan Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat,” ujar Ibrahim di Jakarta, Jumat (17/4/2026).

Dari sisi data ekonomi, klaim pengangguran awal AS tercatat turun menjadi 207 ribu untuk pekan yang berakhir 11 April, lebih rendah dari proyeksi 215 ribu dan sebelumnya 218 ribu.

Data ini memperkuat persepsi ketahanan pasar tenaga kerja AS, meskipun tren rekrutmen dan PHK masih cenderung rendah berdasarkan data JOLTS terbaru.

Pejabat bank sentral AS juga mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menilai konflik Iran berpotensi mendorong inflasi. 

“Sikap kebijakan bank sentral saat ini telah tepat,” katanya, menegaskan arah suku bunga yang masih restriktif.

Dari sisi geopolitik, pasar merespons positif perkembangan terbaru di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran semakin dekat. “Saya pikir kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump.

Iran bahkan disebut menawarkan komitmen tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun.

Sebagai konteks, konflik Iran-AS yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 sempat memicu gangguan signifikan pada pasokan energi global, termasuk penutupan Selat Hormuz selama tujuh pekan.

Jalur ini diketahui mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus USD118 per barel pada fase awal konflik.

Di dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia relatif stabil. Inflasi tetap terjaga dalam target Bank Indonesia, konsumsi rumah tangga menguat didorong momentum Ramadan dan Lebaran, serta neraca perdagangan masih mencatat surplus.

Komoditas unggulan seperti batu bara dan minyak kelapa sawit turut menopang kinerja eksternal.

Namun tekanan eksternal mulai terasa seiring lonjakan harga minyak global. Pemerintah tetap menahan harga bahan bakar bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi.

Di sisi fiskal, pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam pertemuan dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s, defisit diproyeksikan berada di kisaran 2,8%–2,9% PDB, sedikit lebih tinggi dari target awal 2,68% namun masih dalam batas aman.

Penguatan dolar AS di tengah meredanya tensi geopolitik justru mencerminkan pergeseran aliran modal global ke aset aman berbasis dolar. Bagi Indonesia, kondisi ini meningkatkan tekanan pada nilai tukar rupiah, meskipun fundamental domestik masih relatif kuat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.