Pertumbuhan Ekonomi Malaysia Melambat, Risiko Global Mulai Terasa

AKURAT.CO Pertumbuhan ekonomi Malaysia pada awal 2026 mulai menunjukkan tanda moderasi.
Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tercatat tumbuh 5,3% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal I 2026, melambat dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencapai 6,3%, tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Perlambatan ini terjadi di tengah tekanan global yang semakin kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik hingga fluktuasi harga energi dunia.
Dikutip dari laman TheStraitsTimes, secara sektoral pertumbuhan ekonomi Malaysia masih ditopang oleh sektor manufaktur, jasa, dan konstruksi, meski lajunya tidak sekuat kuartal sebelumnya.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi China Tetap Moncer di Tengah Perang Iran vs AS, Ini Sebabnya
Namun, pelemahan mulai terlihat dari sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi sebesar 1,1%, terutama akibat turunnya produksi minyak dan gas.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa fondasi ekonomi Malaysia masih relatif kuat, tetapi mulai menghadapi tekanan dari sisi eksternal.
Kepala Statistik Malaysia, Mohd Uzir Mahidin, menyebut perekonomian negara tersebut tetap 'resilien' meski berada di tengah ketidakpastian global, termasuk lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik.
Namun demikian, sejumlah indikator menunjukkan adanya perlambatan momentum.
Secara kuartalan (quarter-to-quarter), ekonomi Malaysia bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,4% pada Q1 2026, berbalik dari pertumbuhan 3,3% pada Q4 2025. Hal ini memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga mulai memengaruhi aktivitas domestik.
Baca Juga: Misbakhun Sebut Industri Penjaminan Jadi Instrumen Mitigasi Risiko Sekaligus Pertumbuhan Ekonomi RI
Di sisi lain, inflasi mulai menunjukkan tren kenaikan. Indeks harga konsumen Malaysia tercatat naik 1,7% pada Maret 2026, lebih tinggi dibandingkan 1,4% pada Februari.
Kenaikan inflasi ini didorong terutama oleh biaya transportasi dan energi, seiring meningkatnya harga minyak global.
Bahkan, pemerintah Malaysia sempat mengurangi subsidi bahan bakar di tengah lonjakan harga minyak dunia yang menembus USD100 per barel.
Meski demikian, bank sentral Malaysia atau Bank Negara Malaysia (BNM) masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi di kisaran 4% hingga 5% untuk tahun 2026, didukung oleh konsumsi domestik, ekspor, dan sektor pariwisata.
Secara historis, ekonomi Malaysia memang tergolong cukup stabil. Pada 2025, negara tersebut mencatat pertumbuhan 5,2%, melampaui ekspektasi pasar dan ditopang oleh permintaan domestik serta investasi yang kuat.
Namun, perkembangan terbaru di awal 2026 menjadi sinyal bahwa tekanan global mulai menguji daya tahan ekonomi negara tersebut.
Jika tren perlambatan ini berlanjut, maka tantangan utama bagi Malaysia bukan hanya menjaga pertumbuhan, akan tetapi juga memastikan stabilitas harga dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









