Gejolak Global Bikin Galau Ekonomi, Malaysia Pertimbangkan WFH Bagi ASN

AKURAT.CO Pemerintah Malaysia sedang mengkaji penerapan kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) bagi pegawai sektor publik sebagai langkah efisiensi menghadapi ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik.
Menteri Komunikasi Malaysia sekaligus juru bicara pemerintah, Fahmi Fadzil, mengatakan Perdana Menteri Anwar Ibrahim telah meminta kajian terkait kebijakan tersebut agar selaras dengan kebutuhan sektor publik.
"Perdana Menteri meminta proposal WFH ditinjau agar selaras dengan sektor publik," kata Fahmi dalam keterangannya di Kuala Lumpur.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Masih Mengintai Jakarta, PJJ dan WFH Diperpanjang
Selain itu, Anwar juga meminta kementerian dan lembaga pemerintah menyerap masukan dari pelaku industri serta mitra sektor terkait mengenai dampak konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi memicu kenaikan biaya energi, transportasi, serta tekanan terhadap harga barang.
Pemerintah Malaysia sebelumnya juga telah mengumumkan langkah penghematan fiskal untuk mengantisipasi dampak tersebut.
Beberapa langkah yang diambil antara lain meniadakan acara gelar griya atau open house Idul Fitri oleh kementerian, lembaga pemerintah, serta Government-Linked Company (GLC). Selain itu, kunjungan luar negeri oleh anggota kabinet juga dibatasi.
Secara historis, kebijakan WFH di Malaysia mulai diterapkan luas saat pandemi COVID-19 pada 2020.
Saat itu, sektor publik dan swasta menerapkan pola kerja jarak jauh untuk menjaga aktivitas ekonomi sekaligus menekan mobilitas masyarakat.
Baca Juga: Pemprov Jakarta Imbau Perusahaan Terapkan WFH Akibat Cuaca Ekstrem
Jika diterapkan kembali, kebijakan WFH bagi aparatur pemerintah berpotensi menekan biaya operasional kantor, termasuk konsumsi energi, transportasi, dan aktivitas administrasi.
Di sisi lain, kebijakan ini juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi perkotaan, terutama sektor transportasi, layanan makanan, dan ritel yang bergantung pada mobilitas pekerja.
Pemerintah Malaysia menilai langkah efisiensi perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan global terhadap harga energi dan rantai pasok.
Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim menegaskan pemerintah akan terus memantau perkembangan konflik global dan dampaknya terhadap ekonomi nasional.
Meski menghadapi tekanan biaya energi global, pemerintah Malaysia memutuskan tetap mempertahankan harga bahan bakar RON95 di level RM1,99 atau sekitar Rp8.584 per liter.
Ke depan, pemerintah juga akan menilai berbagai opsi kebijakan tambahan guna memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga serta melindungi kesejahteraan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









