Skenario Perang Timur Tengah Bisa Dorong Defisit APBN Capai 4,06%, Kok Bisa?

AKURAT.CO Pemerintah memetakan sejumlah skenario dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap ekonomi Indonesia, termasuk kemungkinan pelebaran defisit APBN hingga di atas 4%.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memaparkan skenario terburuk jika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berlangsung hingga 10 bulan.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Airlangga menyebut harga minyak mentah global dapat mencapai USD115 per barel, kurs rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) mencapai 7,2%.
Dalam kondisi tersebut, defisit APBN diproyeksikan dapat mencapai 4,06% dari PDB.
Baca Juga: Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Pasokan Pangan Indonesia
“Skenario terburuk, yang pesimis itu, dengan harga 115 dolar AS per barel, kurs Rp17.500, growth 5,2 persen, dan defisitnya 4,06 persen,” kata Airlangga dalam sidang kabinet.
Kemudian, untuk skenario kedua, ICP atau harga minyak mentah dalam negeri diproyeksikan USD97 per barel, kurs rupiah terhadap dolar Rp17.300 per dolar AS, tingkat pertumbuhan diproyeksikan 5,2%, dan imbal hasil SBN 7,2%, maka defisit APBN mencapai 3,53%.
"Defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja, dan memotong pertumbuhan. Ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas," kata Airlangga kepada Prabowo.
Seperti yang diketahui, pemerintah biasanya menggunakan sejumlah asumsi makro dalam penyusunan APBN, seperti harga minyak, nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi, dan imbal hasil obligasi negara.
Perubahan signifikan pada variabel tersebut, terutama akibat gejolak global, dapat memengaruhi keseimbangan fiskal negara.
Konflik geopolitik sebelumnya juga pernah memicu lonjakan harga energi global yang berdampak pada subsidi energi dan kebutuhan belanja negara.
Baca Juga: Goncangan Geopolitik, Batu Bara Tahan Banting dan Jadi Andalan Energi Primer Nasional
Kenaikan harga minyak global dapat meningkatkan beban subsidi energi dan belanja negara. Selain itu, pelemahan rupiah serta kenaikan yield SBN berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk pergerakan rupiah dan pasar obligasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








