Kelas Menengah Menjerit Usai Harga Naik Serempak, Ini Kebijakan Konkret Yang Dibutuhkan

AKURAT.CO Kenaikan berbagai harga barang secara serempak kembali memukul kelas menengah. Kenaikan harga BBM Nonsubsidi misalnya, diakui warga cukup menguras daya beli mereka.
"Naiknya signifikan, untuk pertamax turbo misalnya yang biasanya sekitar Rp13.000 per liter sekarang Rp19.000 per liter. Mau enggak mau dengan keadaan ini, kami harus mengubah pola hidup dan pola penggunaan BBM, misalnya lebih banyak menggunakan kendaraan umum," ujar Hendra, pengguna mobil Nissan Serena Highway Star saat mengisi BBM di Kuningan, Jakarta.
Senada, Adit, pengguna Superbike BMW S 1000RR juga mengakui kenaikan harga BBM Nonsubsidi menguras dompet. "Lumayan signifikan naiknya, sekarang ini (superbike) kan dipakainya baru buat weekend jadi belum berasa tapi nanti pasti berasa apalagi kalau kenaikan harganya agak lama. Dampaknya kami jadi mengeluarkan uang jauh lebih banyak untuk sampai tanki penuh," timpal Adit.
Di dunia maya, warganet sudah terlebih dahulu heboh soal kenaika harga BBM Nonsubsidi. Tiktoker @della_sept, pengguna mobil Pajero Sport mengaku kaget saat mengisi Pertamax Dex karena harganya menjulang dari sekitar Rp13.000 an menjadi Rp23.900 per liter. Menariknya, warganet justru mengkritik tiktoker tesebut yang menyatakan bahwa jika beli mobil mahal saja mampu, seharusnya tak perlu mengeluh saat harga BBM nonsubsidi naik.
"Wow banget tiba-tiba naik Rp10.000. Gua sebagai pengguna diesel bener-benar kaget. Minimal dikasih info dulu. Apa abis ini gua simpen aja di garasi gak usah dipakai-pakai mobilnya. Masa gue harus jual mobil baru diganti listrik," tutur Della.
Inflasi Serempak Pukul Kelas Menengah Sekaligus Dunia Usaha
Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede menilai kenaikan serempak harga BBM nonsubsidi, bahan bangunan, plastik, cat, dan berbagai input lain pada dasarnya memukul kelas menengah dari dua arah sekaligus.
Dari sisi rumah tangga, biaya hidup naik karena ongkos mobilitas, perawatan rumah, renovasi, dan belanja rutin menjadi lebih mahal. Dari sisi pekerjaan dan usaha, tekanan biaya ini juga menekan margin perusahaan, sehingga dunia usaha cenderung menahan ekspansi, rekrutmen, bahkan penyesuaian upah.
"Itu sebabnya solusi untuk kelas menengah saat ini tidak cukup hanya berupa bantuan sosial biasa. Yang dibutuhkan adalah paket penyangga daya beli yang spesifik untuk kelompok yang tidak miskin, tetapi makin rentan turun kelas," ujar Josua kepada Akurat.co, Senin (20/4/2026).
Kelas menengah dan menuju kelas menengah atau Upper Aspiring Middle Class (AMC) dan Lower Middle Class (MC) merupakan salah satu kelompok penyumbang terbesar konsumsi rumah tangga, namun porsinya sudah menyusut dari 21,45% populasi pada 2019 menjadi sekitar 16,6% pada 2025. Penguatan daya beli dan pemulihan kelas menengah menjadi kunci menjaga keberlanjutan ekonomi dan penerimaan negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










