Efek Rambatan Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi ke Kelas Menengah Kian Luas, dari Ongkos Transportasi hingga Logistik

AKURAT.CO Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada 18 April 2026 mulai menunjukkan dampak awal terhadap perekonomian domestik, terutama pada daya beli kelas menengah.
Meski inflasi langsung relatif terbatas, tekanan yang lebih besar diperkirakan baru akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Chief Economist PermataBank, Josua Pardede menyebut, dampak langsung kenaikan BBM hanya menambah inflasi sekitar 0,05 hingga 0,18 poin persentase.
Baca Juga: Regresif, IESR Desak Revisi Permendag 11/2026 Yang Hapus Mandat Pajak 0 Persen EV
Namun, efek utama justru berasal dari kenaikan biaya turunan seperti transportasi dan logistik.
“Persoalannya bukan hanya pada angka inflasi langsung, melainkan pada efek rambatan ke ongkos transportasi, logistik, tiket pesawat, hingga harga barang konsumsi,” ujar Josua saat dihubungi Akurat.co, Senin (20/4/2026).
Josua menambahkan, kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex berpotensi meningkatkan ongkos distribusi dengan jeda waktu satu hingga dua bulan.
“Tekanan ke rumah tangga kelas menengah justru cenderung membesar setelah kenaikan awal energi, bukan berhenti di hari pertama,” katanya.
Secara historis, pola serupa pernah terjadi pada periode penyesuaian harga energi sebelumnya, di mana inflasi inti meningkat lebih lambat dibandingkan inflasi energi.
Hal ini membuat tekanan terhadap konsumsi baru terlihat pada periode setelah momentum musiman seperti Ramadan dan Idulfitri.
Dari sisi data, kontribusi kelas menengah terhadap konsumsi rumah tangga masih dominan, mencapai 81%.
Namun, proporsinya dalam populasi terus menurun dari 21,45% pada 2019 menjadi 16,6% pada 2025. Pada saat yang sama, bantalan keuangan rumah tangga juga melemah.
Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 berada di level 122,9. Meski masih optimistis, rasio konsumsi terhadap pendapatan meningkat menjadi 72,2%, sementara tabungan hanya 17,6%.
Kondisi ini menunjukkan ruang fiskal rumah tangga semakin sempit. Setiap kenaikan biaya hidup, termasuk energi dan transportasi, berpotensi langsung menekan konsumsi nonpokok hingga tabungan.
Dampaknya mulai merembet ke sektor usaha. Sektor ritel, makanan dan minuman, hingga pariwisata diperkirakan akan menghadapi penurunan permintaan pasca periode Lebaran.
Sementara itu, pelaku usaha dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga atau menanggung penurunan margin.
Tekanan terhadap konsumsi diperkirakan meningkat pada kuartal II-2026, terutama jika tidak ada intervensi kebijakan tambahan untuk menjaga daya beli.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal









