Akurat
Pemprov Sumsel

Kenaikan Harga Serempak Tak Cuma Gerus Konsumsi DIskresioner Kelas Menengah, Tapi Juga Konsumsi Inti dan Kemampuan Menabung

Esha Tri Wahyuni | 20 April 2026, 20:05 WIB
Kenaikan Harga Serempak Tak Cuma Gerus Konsumsi DIskresioner Kelas Menengah, Tapi Juga Konsumsi Inti dan Kemampuan Menabung
Ilustrasi konsumsi inti kelas menengah

AKURAT.CO Tekanan terhadap kelas menengah Indonesia kian meningkat seiring kenaikan biaya energi dan melemahnya kondisi keuangan rumah tangga. Kondisi ini berisiko langsung terhadap konsumsi domestik yang menjadi penopang utama ekonomi nasional.

Data menunjukkan, kelas menengah dan menuju kelas menengah menyumbang sekitar 81% konsumsi rumah tangga. Namun, jumlahnya terus menyusut, dari 21,45% populasi pada 2019 menjadi 16,6% pada 2025.

Chief Economist PermataBank, Josua Pardede menilai, kondisi ini memperbesar risiko terhadap stabilitas konsumsi. 

Baca Juga: Efek Rambatan Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi ke Kelas Menengah Kian Luas, dari Ongkos Transportasi hingga Logistik

“Tekanan ke kelas menengah bukan lagi sekadar mengurangi konsumsi diskresioner, tetapi mulai menggerus konsumsi inti dan kemampuan menabung,” ujarnya saat dihubungi Akurat.co, Senin (20/4/2026).

Menurutnya, kenaikan harga energi tidak berdampak langsung secara besar pada inflasi, tetapi memberikan tekanan signifikan melalui kenaikan biaya hidup secara menyeluruh.

Bank Indonesia mencatat rasio konsumsi terhadap pendapatan mencapai 72,2% pada Maret 2026, sementara porsi tabungan hanya 17,6%. Artinya, sebagian besar pendapatan rumah tangga habis untuk konsumsi. “Rumah tangga masih bertahan belanja, tetapi ruang napasnya makin sempit,” kata Josua.

Dalam konteks historis, pelemahan kelas menengah kerap menjadi indikator awal perlambatan konsumsi domestik. Hal ini pernah terjadi pada periode pasca pandemi Covid-19, ketika pemulihan konsumsi berjalan lebih lambat dibanding sektor lain.

Dampak lanjutan diperkirakan akan terasa pada sektor ritel, makanan dan minuman, hingga properti. Sektor-sektor ini sangat bergantung pada daya beli kelas menengah.

Meski penjualan ritel masih tumbuh 6,5% secara tahunan pada Februari 2026, pertumbuhan tersebut didorong faktor musiman Ramadan dan Idulfitri. Setelah periode tersebut, tekanan konsumsi diperkirakan meningkat.

Keberlanjutan pertumbuhan ekonomi domestik akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga daya beli kelas menengah di tengah kenaikan biaya hidup.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.