Siap-siap Warga, Harga Emas Bisa Tembus USD4.880 per Troyounce Setara Rp2,98 Juta per Gram Pekan Depan

AKURAT.CO Harga emas memasuki pekan terakhir April dalam kondisi rapuh, terombang-ambing oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pelaku pasar kini menimbang dua kekuatan besar—risiko perang dan suku bunga tinggi, yang berpotensi mendorong pergerakan logam mulia secara tajam dalam jangka pendek.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi melihat ada potensi emas global melemah dengan support awal di USD4.651 per troyounce dan potensi penurunan lanjutan ke USD4.520 setara Rp2,8 juta hingga Rp2,79 juta per gram logam mulia, dibanding penutupan terkahir USD4.708.
Baca Juga: Pegadaian Gelar Tring Golden Run 2026, Dorong Literasi Investasi Emas dan Gaet Generasi Muda
Namun di sisi atas, jika sentimen risiko meningkat, emas berpotensi menguji resistance di USD4.779 setara logam mulia Rp2,865 juta. Namun juga bisa lebih menguat mendekati USD4.880 setara Rp2,98 juta per gram.
"Arah pasar dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh dinamika geopolitik yang berkembang cepat di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global," ujar Ibrahim.
Ketegangan meningkat setelah wacana pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan terhambat oleh insiden penangkapan kapal tanker Iran. Di saat yang sama, retorika Presiden Donald Trump yang menyatakan kesiapan untuk menyerang kapal Iran kontras dengan pernyataannya mengenai peluang gencatan senjata permanen.
Konflik yang juga melibatkan Israel dan Lebanon Selatan semakin memperkeruh situasi. Teheran bahkan menyatakan kesiapan untuk berperang, meningkatkan risiko gangguan di Selat Hormuz,yang selama ini menjadi titik krusial bagi stabilitas pasokan energi global.
Penutupan jalur tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga minyak, memperkuat tekanan inflasi global, dan pada akhirnya menopang harga emas sebagai aset lindung nilai.
Di luar faktor geopolitik, arah kebijakan moneter juga menjadi penentu utama. Pergantian kepemimpinan di Federal Reserve dari Jerome Powell ke Kevin Warsh (cenderung pro Trump) memunculkan spekulasi baru terkait independensi bank sentral.
Meski ada kekhawatiran bahwa kepemimpinan baru akan lebih selaras dengan agenda Gedung Putih, tekanan inflasi,terutama dari sektor energi, membatasi ruang pelonggaran suku bunga.
Jika suku bunga tetap tinggi atau bahkan meningkat, daya tarik emas sebagai aset non-yielding bisa tertekan. Namun dalam skenario eskalasi konflik, permintaan terhadap safe haven berpotensi mengimbangi tekanan tersebut.
Dengan kombinasi faktor geopolitik yang memanas dan kebijakan moneter yang belum pasti, pasar emas diperkirakan akan tetap bergerak dalam volatilitas tinggi. Bagi investor, pekan terakhir April menjadi momen krusial yang dapat menentukan arah tren emas dalam jangka menengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







