Akurat Logo

Hati-hati dengan Narasi Rupiah Undervalued

Yosi Winosa | 28 April 2026, 18:47 WIB
Hati-hati dengan Narasi Rupiah Undervalued
Ilustrasi duel rupiah vs dolar as

AKURAT.CO Selama 12 tahun terakhir (2014-2026), rupiah selalu melemah (terdepresiasi) terhadap dolar AS, bukan dalam arti crash landing seperti krisis 1998, tapi lebih ke arah managed weakening yang gradual.

Tercatat, di tahun 2014 rata-rata nilai rupiah sekitar Rp11.864/USD. Kemudian di 2015 melemah ke Rp13.300–13.400/USD. Di 2016 relatif stabil di kisaran Rp13.300/USD, tapi kemudian di tahun 2017-2019 berfluktuasi di Rp13.300-14.500.

Lalu di tahun 2020 (Covid shock) rupiah sempat menyentuh Rp16.000 dan di tahun 2021-2023 masuk fase stabilisasi di Rp14.500-15.500. Sayangnya di tahun 2025-2026 rupiah kembali tertekan ke kisaran Rp16.500-17.000.

Baca Juga: Rupiah Naik Tipis ke Rp17.211, Ini Pendorongnya

Pendorong depresiasi rupiah ada banyak, namun umumnya dari 3 saluran ini. Pertama, faktor diferensial inflasi, dimana Indonesia secara konsisten memiliki inflasi lebih tinggi dibanding AS. Implikasi nilai riil rupiah memang seharusnya melemah (teori purchasing power parity/ PPP).

Kedua, ketergantungan tinggi pada modal asing, dimana rupiah sangat sensitif terhadap capital outflow (aliran modal asing keluar) dan kebijakan suku bunga The Fed. Hal ini terlihat jelas di episode pelemahan besar rupiah tahun 2015, 2018, 2020, 2025 yang selalu terkait dengan pengetatan likuiditas global.

Ketiga, struktur ekonomi yang Commodity Currency Lite dimana Indonesia merupakan negara eksportir berbasis komoditas sekaligus importir barang modal & energi. Akibatnya, saat harga komoditas turun rupiah melemah dan saat USD menguat secara global rupiah akan underperform.

Narasi Berulang Rupiah Undervalued

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai Pemerintah maupun BI terlalu sering beranggapan bahwa rupiah undervalued atau berada di bawah nilai wajarnya. Narasi tersebut terus diulang di berbagai situasi, saat geopolitik memanas, pandemi maupun saat kondisi pasar relatif stabil.

Padahal, perlu evaluasi lebih dalam soal relevansi narasi tersebut di situasi seperti saat ini, dimana bahkan dalam jangka panjang kemungkinan rupiah menuju Rp22.000 per dolar AS masih ada. Kondisi seperti saat ini semestinya mendorong evaluasi lebih mendalam terhadap pemahaman akan nilai wajar rupiah.

"Harus diingat bahwa penggunaan narasi undervalued telah bergeser dari yang semula berbasis analisis ekonomi ke instrumen komunikasi demi meredam kepanikan pasar," ujar Ibrahim di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Pemerintah dan BI perlu mengingat, masyarakat terutama pasar saat ini kian kritis akan kondisi real perekonomian Indonesia. Di era digital dan tranparansi data saat ini, tak ada yang benar-benar bisa ditutup-tutupi.

"Pemerintah maupun BI harus lebih berhati-hati dalam menggunakan kata-kata undervalued. Karena kalau narasi ini terus digaungkan dalam kondisi ekonomi global yang tak baik-baik saja dimana rupiah masih berpeluang besar melemah, masyarakat dan pasar terutama, tak akan percaya lagi terhadap pemerintah maupun BI," tutur Ibrahim.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.