Akurat Logo

Jangan Terlena Data, Momentum Pertumbuhan Ekonomi Harus Dijaga

Esha Tri Wahyuni | 5 Mei 2026, 14:24 WIB
Jangan Terlena Data, Momentum Pertumbuhan Ekonomi Harus Dijaga
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2026, melampaui ekspektasi pasar.

Namun, di balik capaian tersebut, data yang sama juga menunjukkan kontraksi ekonomi sebesar 0,77% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), memunculkan indikasi bahwa penguatan ekonomi belum berlangsung merata.

Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan angka pertumbuhan tersebut memang lebih tinggi dari proyeksi awal sebesar 5,44%. Meski demikian, ia menegaskan bahwa capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan penguatan fundamental ekonomi.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,61 Persen, Apa Saja Penyumbangnya?

“Angka ini kuat secara tahunan, tetapi belum berarti ekonomi mengalami lonjakan berlebihan, karena sebagian besar didorong faktor musiman dan basis pembanding yang rendah,” ujar Josua kepada Akurat.co, Selasa (5/5/2026).

Data BPS menunjukkan konsumsi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52% dengan kontribusi 54,36% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Belanja pemerintah melonjak signifikan hingga 21,81%, sementara investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,96% dan konsumsi lembaga non-profit rumah tangga (LNPRT) naik 6,28%. Lonjakan ini terjadi seiring momentum Ramadan dan Idulfitri

Sektor berbasis mobilitas pun mencatat pertumbuhan tinggi, seperti akomodasi dan makan minum sebesar 13,14%, transportasi dan pergudangan 8,04%, serta jasa lainnya 9,91%. Sementara itu, sektor perdagangan tumbuh 6,26%.

Di sisi lain, kontribusi sektor eksternal relatif terbatas. Ekspor hanya tumbuh 0,90%, sedangkan impor meningkat lebih tinggi sebesar 7,18%. Kondisi ini menyebabkan net ekspor memberikan kontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Secara historis, pola pertumbuhan yang ditopang konsumsi musiman kerap terjadi pada kuartal pertama, terutama saat periode hari besar keagamaan. Pada tahun-tahun sebelumnya, konsumsi rumah tangga juga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan kontribusi lebih dari separuh PDB. 

Namun, ketergantungan terhadap konsumsi domestik tanpa dukungan ekspor yang kuat kerap dinilai membatasi kualitas pertumbuhan jangka panjang.

Moderasi PDB Kuartal II-2026

Memasuki kuartal II-2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap berada di atas 5%, namun dengan kecenderungan melambat. Josua menaksir pertumbuhan akan berada di kisaran 5,1% hingga 5,3% yoy. 

“Efek musiman Idulfitri akan hilang, sementara tekanan eksternal mulai meningkat,” ujarnya.

Sejumlah faktor yang berpotensi menahan laju pertumbuhan antara lain kenaikan harga minyak global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta peningkatan biaya logistik dan energi. Tekanan ini juga mulai tercermin pada sektor riil. 

Data PMI Manufaktur April 2026 mencatat penurunan output tercepat sejak Mei 2025, kenaikan biaya input tertinggi dalam empat tahun, serta penurunan keyakinan bisnis ke level terendah sejak November.

Di sisi eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya perang Iran, berpotensi memberikan tekanan tambahan. Dampaknya antara lain melalui kenaikan harga energi global, gangguan rantai pasok, serta pengetatan kondisi keuangan global.

Sektor yang dinilai rentan terdampak meliputi transportasi, logistik, manufaktur berbasis impor, hingga perdagangan dan sektor akomodasi. Meski demikian, Josua menilai risiko tersebut tidak akan langsung mendorong ekonomi ke fase kontraksi. 

“Risiko yang lebih realistis adalah pertumbuhan melambat secara bertahap, bukan langsung turun tajam,” ujarnya.

Isu Transparansi Data

Di tengah data pertumbuhan yang positif, isu kredibilitas statistik ekonomi turut mencuat. Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, mempertanyakan validitas data pertumbuhan yang dirilis. 

“Kebohongan data pada kuartal II-2025 akan terus dilanjutkan dengan kebohongan data lainnya. Rusak negara bisa dengan memanipulasi data. Tinggal nunggu kuartal II-2026 nanti akan memasukan data apalagi jika sudah tinggi baselinenya,” tegasnya.

Pada Agustus 2025 lalu Celios bersurat ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) terkait anomali penghitungan pertumbuhan ekonomi RI sebesar 5,12% secara tahunan (yoy) pada kuartal II-2025 yang dirilis BPS.

Celios menyoroti aspek transparansi metodologi, akurasi perhitungan dan independensi BPS dalam publikasi data PDB tersebut. Surat pun dibalas dengan apresiasi oleh Ketua Komisi Statistik PBB Georges-Simon Ulrich

"Kami menghargai upaya Anda untuk menjunjung integritas statistik resmi dan mempromosikan kepatuhan pada standar internasional. Terima kasih telah menyampaikan masalah ini ke kami. Kami akan meneruskan komunikasi dan surat terlampir Anda ke United Nations Statistics Division," ujar Ulrich.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.