Akurat Logo

Rupiah Menguat 0,71 Persen ke Rp18.058 Usai BI Rate Dinaikkan

Esha Tri Wahyuni | 9 Juni 2026, 16:19 WIB
Rupiah Menguat 0,71 Persen ke Rp18.058 Usai BI Rate Dinaikkan
Rupiah menguat

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026) setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.

Terpantau rupiah menguat 0,71% (129,5 poin) ke Rp18.058 pada penutupan perdagangan Selasa. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat menguat hingga 150 poin.

Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai sejumlah risiko global, mulai dari konflik Timur Tengah, potensi lonjakan harga energi, hingga inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi.

Baca Juga: BI Rate Naik 25 Bps ke 5,5 Persen Buntut Pelemahan Rupiah

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi setelah sentimen pasar global membaik menyusul meredanya ketegangan antara Iran dan Israel.

Kedua negara mengindikasikan penghentian serangan setelah adanya seruan Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan eskalasi konflik.

"Sentimen pasar membaik setelah Iran dan Israel menyatakan menghentikan serangan satu sama lain, meskipun risiko geopolitik masih tetap ada dan pelaku pasar terus memantau perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan merespons dengan kekuatan apabila Iran kembali melakukan serangan.

Sementara itu, Trump mengungkapkan telah memperingatkan Israel agar tidak kembali memperluas konflik yang berpotensi memicu perang berkepanjangan di kawasan.

Perhatian pasar juga tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis sekitar 20% pasokan minyak dunia. Salah satu poin utama yang didorong Washington dalam perundingan perdamaian adalah pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut guna menjaga stabilitas pasokan energi global.

Ketidakpastian pasokan energi membuat investor masih mengkhawatirkan potensi kenaikan inflasi global. Kondisi tersebut mendorong pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS Mei 2026 yang dijadwalkan keluar pada Rabu (10/6/2026). Konsensus pasar memperkirakan inflasi AS mencapai 4,2% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan realisasi April sebesar 3,8%.

Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada posisi cadangan devisa Indonesia yang turun menjadi USD144,9 miliar pada akhir Mei 2026 dari USD146,2 miliar pada April 2026.

Penurunan sebesar USD1,3 miliar tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah, kebutuhan transaksi fiskal, serta berbagai kewajiban eksternal lainnya.

Posisi cadangan devisa tersebut menjadi yang terendah sejak Juli 2024. Meski demikian, level tersebut masih dinilai memadai untuk mendukung stabilitas sektor eksternal dan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Dalam waktu bersamaan, pemerintah juga memberi sinyal tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru guna menjaga daya beli masyarakat yang berpotensi tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.200 per USD.

Pemerintah menilai stimulus diperlukan untuk meredam dampak gejolak ekonomi global terhadap konsumsi domestik.

Selain itu, pemerintah juga akan membahas perkembangan proyek Indonesia Financial Center (IFC) sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor keuangan nasional dan meningkatkan daya tarik investasi.

Koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Sinergi antara otoritas moneter dan fiskal menjadi langkah penting di tengah meningkatnya tekanan eksternal dan volatilitas pasar keuangan global.

Sebagai respons terhadap tekanan tersebut, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027.

Bank sentral juga menegaskan akan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik melalui kenaikan imbal hasil dan berbagai instrumen pendukung lainnya guna mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar Indonesia.

Sebagai informasi, kenaikan suku bunga acuan kerap digunakan Bank Indonesia sebagai instrumen utama untuk meredam tekanan terhadap nilai tukar ketika terjadi gejolak global.

Kebijakan serupa juga pernah ditempuh saat terjadi tekanan eksternal akibat pengetatan moneter global dan lonjakan harga komoditas dalam beberapa tahun terakhir

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.