Akurat Logo

Benarkah Indonesia Sedang Mengalami Ekonomi Mahal?

Andi Syafriadi | 6 Juli 2026, 17:43 WIB
Benarkah Indonesia Sedang Mengalami Ekonomi Mahal?
Ilustrasi Ekonomi Mahal (Source: ChatGPT)

AKURAT.CO Bagi sebagian besar pekerja urban di kota-kota besar Indonesia, paruh pertama tahun 2026 bukanlah periode yang ramah bagi urusan isi dompet.

Lembar struk belanja bulanan yang kian panjang tidak lagi berbanding lurus dengan volume barang yang dibawa pulang. Di sisi lain, upah bulanan bergerak stagnan.

Secara makro, pemerintah boleh saja memamerkan tameng ketahanan ekonomi nasional. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh meyakinkan di angka 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Namun, jika indikator tersebut dibedah menggunakan pendekatan sosiologi ekonomi, tampak jelas bahwa angka pertumbuhan yang mentereng tersebut menyembunyikan luka dalam pada pilar daya beli riil masyarakat.

Baca Juga: Jaga Daya Beli Masyarakat, Prabowo Siapkan Paket Stimulus Ekonomi Semester II 2026

Indonesia sedang mengalami himpitan ganda di antaranya menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat berbanding terbalik dengan menyusutnya bantalan finansial di katup bawah.

Efek Berantai Awal Tahun

Akar dari persepsi "Ekonomi Mahal" yang dirasakan publik tidak terjadi dalam semalam. Lonjakan biaya hidup terakselerasi signifikan sejak awal tahun.

BPS mencatat bahwa pada Februari 2026, inflasi tahunan Indonesia melonjak hingga menyentuh angka 4,76%, mencatatkan rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month) pada periode tersebut mencapai 0,68%.

Lonjakan drastis pada awal tahun ini sebagian besar dipicu oleh low-base effect atau efek basis rendah akibat kebijakan normalisasi tarif listrik setelah hilangnya diskon tarif 50% dari tahun sebelumnya.

Menurut Kepala BPS Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan dalam rilis resminya bahwa normalisasi tersebut membuat komoditas listrik memberikan andil besar terhadap garis inflasi.

Baca Juga: Premi Tunggal Tumbuh Saat Daya Beli Tertekan, Ini Penjelasan OJK

Meski memasuki pertengahan tahun tepatnya per Juni 2026, angka inflasi tahunan mulai melandai secara perlahan ke kisaran 3,34%, penurunan angka statistik ini tidak serta-merta menurunkan harga barang di pasar.

Meski inflasi melandai, tingkat harga berbagai barang masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan awal tahun, sementara kemampuan beli masyarakat telanjur kehabisan napas.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.