Benarkah Indonesia Sedang Mengalami Ekonomi Mahal?

AKURAT.CO Bagi sebagian besar pekerja urban di kota-kota besar Indonesia, paruh pertama tahun 2026 bukanlah periode yang ramah bagi urusan isi dompet.
Lembar struk belanja bulanan yang kian panjang tidak lagi berbanding lurus dengan volume barang yang dibawa pulang. Di sisi lain, upah bulanan bergerak stagnan.
Secara makro, pemerintah boleh saja memamerkan tameng ketahanan ekonomi nasional. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh meyakinkan di angka 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Namun, jika indikator tersebut dibedah menggunakan pendekatan sosiologi ekonomi, tampak jelas bahwa angka pertumbuhan yang mentereng tersebut menyembunyikan luka dalam pada pilar daya beli riil masyarakat.
Baca Juga: Jaga Daya Beli Masyarakat, Prabowo Siapkan Paket Stimulus Ekonomi Semester II 2026
Indonesia sedang mengalami himpitan ganda di antaranya menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat berbanding terbalik dengan menyusutnya bantalan finansial di katup bawah.
Efek Berantai Awal Tahun
Akar dari persepsi "Ekonomi Mahal" yang dirasakan publik tidak terjadi dalam semalam. Lonjakan biaya hidup terakselerasi signifikan sejak awal tahun.
BPS mencatat bahwa pada Februari 2026, inflasi tahunan Indonesia melonjak hingga menyentuh angka 4,76%, mencatatkan rekor tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month) pada periode tersebut mencapai 0,68%.
Lonjakan drastis pada awal tahun ini sebagian besar dipicu oleh low-base effect atau efek basis rendah akibat kebijakan normalisasi tarif listrik setelah hilangnya diskon tarif 50% dari tahun sebelumnya.
Menurut Kepala BPS Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan dalam rilis resminya bahwa normalisasi tersebut membuat komoditas listrik memberikan andil besar terhadap garis inflasi.
Baca Juga: Premi Tunggal Tumbuh Saat Daya Beli Tertekan, Ini Penjelasan OJK
Meski memasuki pertengahan tahun tepatnya per Juni 2026, angka inflasi tahunan mulai melandai secara perlahan ke kisaran 3,34%, penurunan angka statistik ini tidak serta-merta menurunkan harga barang di pasar.
Meski inflasi melandai, tingkat harga berbagai barang masih berada pada level yang lebih tinggi dibandingkan awal tahun, sementara kemampuan beli masyarakat telanjur kehabisan napas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 120 Twibbon 17 Agustus 2026 Gratis, Cocok untuk Foto Profil dan Rayakan HUT RI
- 2Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 3Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 6Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 7Meludahi Biarawati: Pelecehan Bernuansa Agama oleh Ekstremis Yahudi Menjadi Hal yang Lumrah di Yerusalem
- 8BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









