Akurat Logo

Rupiah DItaksir Melemah ke Rp18.300 Jelang Rilis Sejumlah Data Ekonomi

Esha Tri Wahyuni | 3 Agustus 2026, 08:09 WIB
Rupiah DItaksir Melemah ke Rp18.300 Jelang Rilis Sejumlah Data Ekonomi
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan pekan ini. Rupiah ditaksir melemah ke kisaran Rp18.250 sampai Rp18.300-an pada perdagangan Senin (3/8/2026).

Pelaku pasar kini menanti serangkaian data ekonomi domestik yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI), mulai dari neraca perdagangan, inflasi, aktivitas manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).

Selain indikator dalam negeri, sentimen eksternal juga diperkirakan masih membayangi pasar keuangan. Meningkatnya tensi geopolitik global dan ekspektasi arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dinilai berpotensi mempertahankan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Baca Juga: Sentimen Geopolitik, Rupiah Bisa Melemah ke Rp18.160

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, fokus utama investor pada pekan depan akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Indonesia yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah.

"Nah, kemudian untuk rupiah sendiri kita melihat bahwa minggu ini pasar akan melihat tentang banyaknya data yang akan dirilis di Amerika, di Indonesia terutama adalah neraca perdagangan yang kemungkinan besar neraca perdagangan di bulan Juni ini akan terjadi defisit. Ya ini pun juga akan mempengaruhi terhadap pergerakan rupiah," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (3/8/2026).

Menurut Ibrahim, neraca perdagangan yang berpotensi mencatatkan defisit dapat menjadi sentimen negatif bagi pasar valuta asing karena mencerminkan melemahnya surplus transaksi perdagangan yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar rupiah.

Selain itu, ia memperkirakan laju inflasi Indonesia akan kembali melandai seiring menurunnya harga sejumlah komoditas pangan akibat intervensi pemerintah.

"Kemudian yang kedua tentang masalah inflasi. Inflasi pun juga kemungkinan besar ini akan melandai, ya karena harga-harga relatif lebih turun karena adanya intervensi pasar bisa saja di bawah 3,34 persen," ujarnya.

Di sektor riil, Ibrahim menilai industri manufaktur nasional juga masih belum menunjukkan pemulihan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia diperkirakan tetap berada di bawah level 50 yang menandakan aktivitas industri masih berada dalam fase kontraksi.

"Kemudian kita melihat juga tentang data PMI Manufaktur, ya, Indonesia yang kemungkinan besar masih akan terkontraksi di bawah 50 walaupun kemungkinan besar di bulan Juli di atas 46,9 tapi masih terkontraksi. Dan ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja, ya ini menurun drastis, PHK di mana-mana," katanya.

Tidak hanya itu, Ibrahim juga memperkirakan posisi cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, cadangan devisa tercatat sebesar USD145,6 miliar.

"Kemudian untuk cadangan devisa pun juga kemungkinan besar cadangan devisa ini akan mengalami penurunan, ya dibandingkan di bulan Juni. Ya, di bulan Juni kita lihat di USD145,6 miliar. Kemungkinan besar akan mengalami penurunan dan cadangan devisa ini hanya bisa digunakan untuk 4,9 bulan," ujarnya.

Ia menilai level tersebut berada di bawah standar yang umumnya menjadi acuan bagi negara dengan peringkat utang kategori investment grade.

"Artinya apa? Bahwa 4,9 bulan itu tidak sesuai dengan pemeriksaan internasional yang dikatakan bahwa negara yang mempunyai rating utang di Triple B harus di 5 bulan untuk cadangan devisanya," kata Ibrahim.

Sementara dari sisi konsumsi rumah tangga, Ibrahim memperkirakan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih akan melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung sejak awal tahun. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

"Kemudian yang terakhir adalah tentang IKK, Indeks Keyakinan Konsumen. Ya, kemungkinan besar di bulan Juli ini pun juga akan menurun. Kita tahu bahwa dari mulai bulan Januari, Mei, Juni, Juli, ini terus mengalami penurunan IKK dari bulan Januari di 129 sampai di Juni itu di 117,8 ada kemungkinan besar di bulan Juli itu di 116,6," jelasnya.

Dengan kombinasi berbagai indikator tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak dalam tren pelemahan pada perdagangan pekan depan.

"Nah, ini mengindikasikan bahwa data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia pekan ini akan berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah. Rupiah kemungkinan besar akan melemah, bisa saja mendekati level di Rp18.250 sampai di Rp18.300-an," tegas Ibrahim.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.