Siti Zuhro: Tirulah Risma Jika Jakarta Ingin Menjadi Kota Global

AKURAT.CO Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan bahwa pembangunan Jakarta tidak bisa hanya dititikberatkan pada aspek fisik semata.
Peneliti Utama BRIN, Siti Zuhro, mengatakan, transformasi ibu kota harus mencakup dimensi sosial, budaya, hukum, ekonomi, hingga politik secara menyeluruh—dengan prinsip adil, tertib, ramah, dan bersih.
“Kalau Jakarta mau take off jadi kota global, maka kelurahan harus menjadi center of excellence pelayanan publik. Itu tidak bisa ditawar lagi,” kata Siti saat ditemui di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Selasa (24/6/2025).
Menurutnya, pelayanan publik harus dimulai dari level terendah pemerintahan, yakni kelurahan, yang menjadi wajah utama dalam memberikan akses layanan yang mudah, setara, dan profesional kepada warga.
“Kita ingin wajah kelurahan itu jadi representasi dari pelayanan publik yang baik dan berkeadilan,” ujar akademisi yang dikenal luas dengan kajian tata kelola pemerintahan ini.
Siti juga menyarankan agar Jakarta meniru model keberhasilan pembangunan yang diterapkan Wali Kota Surabaya periode 2010–2020, Tri Rismaharini.
Baca Juga: Presiden Prabowo Terima Telepon Presiden Korsel, Bahas Penguatan Kemitraan Strategis
Ia menyebut, pendekatan Risma yang menyentuh langsung kebutuhan warga terbukti mampu mengubah wajah kota.
“Ibu Risma itu sudah jadi role model. Kenapa tidak di-copy-paste untuk Jakarta?” ucapnya.
Tak hanya soal pelayanan, Siti menyoroti pentingnya infrastruktur hijau dan kota yang berwawasan lingkungan sebagai ciri kota modern.
Menurutnya, penyediaan toilet umum gratis, pengelolaan limbah, tempat sampah yang memadai, serta kebersihan area publik seperti pasar adalah indikator penting kelayakan suatu kota.
“Mungkin ini bisa jadi keunggulan tersendiri dari figur seperti Pramono Anung—kalau memang beliau ingin berkontribusi membangun Jakarta,” kata Siti menutup pernyataannya.
Pandangan Siti Zuhro menegaskan, transformasi Jakarta menuju kota global tak cukup dilakukan dari balik meja atau lewat pencitraan elite, tetapi harus menyentuh langsung ke akar persoalan di tingkat komunitas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










