Akurat Logo

Di Kebun Kecil Itu, Ibu-Ibu KWT Mawar 8 Meracik Produk Pertanian Unggulan

Yosi Winosa | 8 Mei 2026, 12:51 WIB
Di Kebun Kecil Itu, Ibu-Ibu KWT Mawar 8 Meracik Produk Pertanian Unggulan
Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8

AKURAT.CO Pagi di lingkungan RW 04 Kelurahan Porisgaga Baru, Batuceper, Kota Tangerang, bergerak pelan. Anak-anak TK dan SD berlarian di dekat taman bermain. Sejumlah warga menuntaskan jogging kecil sebelum matahari meninggi.

Di sisi lapangan, di antara pagar dan deretan tanaman hijau, beberapa perempuan sibuk memeriksa daun kangkung, memotong batang cabai yang mulai menguning, lalu sesekali bercanda pendek yang terdengar ringan.

Tak banyak yang menyangka, kebun kecil yang sejatinya fasum itu lahir dari masa yang pernah membuat orang-orang takut keluar rumah. Pada 2021, ketika pandemi Covid-19 mengurung banyak orang di dalam rumah, lahan ini hanyalah tanah kosong yang telantar.

Baca Juga: Menko PM: KUR dan Kredit UMKM Tumbuh Positif, Pemerintah Terus Perkuat Akses Permodalan dan Pasar

Rumput liar tumbuh tanpa arah. Hari-hari terasa panjang. Sebagian warga kehilangan ritme hidup yang biasa. Lalu muncul satu gagasan sederhana: menanam sesuatu. “Yang tadinya pegang pulpen jadi pegang pacul,” celetuk Lie Vonny, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8.

Kalimat itu terdengar seperti seloroh, tetapi di situlah sebuah transformasi sosial bermula. Warga kompleks yang sebelumnya nyaris tak memiliki hubungan dengan dunia pertanian mulai belajar menanam bersama. Di tengah ketidakpastian pandemi, aktivitas bercocok tanam menjadi ruang sosial baru sekaligus cara menjaga kewarasan.

Namun tantangan datang justru ketika pandemi berlalu. Keadaan mulai normal. Satu per satu anggota mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.  Ada yang pulang malam, ada yang tetap bekerja di akhir pekan.

Yang tersisa menjaga kebun sebagian besar adalah ibu-ibu yang selesai membereskan rumah lalu menyempatkan diri datang sebelum terik menyengat. “Yang aktif sekarang ya ibu rumah tangga, sekitar 10 orang,” ujar Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihandini.

Memecah Keterbatasan

KWT Mawar 8 menerima TJSL berupa fasilitas hidroponik dari BRI Peduli

KWT Mawar 8 pada awalnya mereka mengandalkan pola tanam konvensional. Yuliana ingat betul, buah kundur menjadi produk unggulan perdana mereka. Disusul produksi jamu dari kunyit asam, kencur berbagai lainnya.

Tapi seiring jumlah anggota yang berkurang usai aktivitas pascapandemi kembali normal, fokus KWT Mawar 8 bergeser ke sayuran, yang akhirnya diolah juga menjadi sirup blimbing wuluh dan jus sayuran. Jus sayuran dicampur dengan lemon atau nanas agar rasanya masih bisa diterima lidah kebanyakan orang. “Kalau murni jus sayur ya rasanya bagaimana,” ujar Vonny.

Kegiatan pertaniam ibu-ibu RW 4 masuk ke level baru usai dikenalkan hidroponik oleh Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kota Tangerang. Meskipun masih ada kekhawatiran bahwa nutrisi kimia pada hidroponik dianggap tidak sealamiah tanaman tanah.

Kemudian, titik baliknya terjadi pada September-Oktober 2025 ketika KWT Mawar 8 memperoleh bantuan CSR dari program BRI Peduli. Bantuan bukan dalam bentuk uang, melainkan fasilitas instalasi hidroponik, pengembangan lahan, hingga bantuan pengurukan tanah untuk mengatasi area rawan banjir.

Ketika tahap pertama dinilai berhasil, bantuan dilanjutkan dengan pembangunan balai KWT, ruang sederhana yang kini menjadi tempat berteduh sekaligus pusat aktivitas komunitas. Perlahan kebun itu tumbuh menjadi lebih hidup. Tak hanya sayuran, mereka mulai mengkreasikan produk olahan seperti sirup belimbing wuluh, minuman lidah buaya, hingga jus sayur campur lemon dan nanas tadi.

Dari Warga untuk Warga

Warga RW 04 Kelurahan Porisgaga Baru membeli hasil panen KWT Mawar 8

Yuliana mengatakan kelompok mereka sejak awal memang tidak dibangun sebagai sumber penghasilan utama. KWT lebih diposisikan sebagai aktivitas sosial produktif yang membuat lingkungan menjadi hidup dan bermanfaat.

Karena itu, orientasi mereka tidak melulu bisnis. Dalam konteks skala bisnispun, masih terbilang ultra mikro karena perputaran maksimal dari panen maksimal baru Rp1 jutaan. Nilai yang belum cukup menjadikan aktivitas ini sebagai sumber nafkah utama.

Saat panen melimpah, sebagian hasil sayur dibagikan kepada warga sekitar atau pengunjung posyandu. Mereka pernah membagikan kangkung gratis ketika hasil panen terkena dampak banjir namun masih layak konsumsi. Bahkan untuk menarik partisipasi warga, pengunjung posyandu yang datang lebih awal kadang mendapat satu ikat sayur gratis.

“KWT Mawar 8 saat ini telah menjadi salah satu kegiatan pelengkap di lingkungan RW kami. Jadi utamanya warga pasti bekerja dulu, atau yang ibu-ibu utamanya rumah tangga dulu baru KWT. Karena tujuan awalnya memang agar lahan yang semula terbengkalai menjadi lahan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Yuliana.

Dikunjungi Istri Wakil Walikota Tangerang

Rini Raghassel, Istri Wakil Walikota Tangerang panen pare, terong dan tomat olahan KWT Mawar 8

KWT Mawar 8 juga berbangga pernah dikunjungi istri Wakil Walikota Tangerang, Rini Raghassel bersama Tim Penggerak PKK Kota Tangerang dan Tim Penggerak PKK Kecamatan Batuceper melaksanakan kegiatan panen pare, terong dan tomat.

KWT Mawar 8 menjadi bukti nyara semangat pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan lahan produktif serta dukungan terhadap ketahanan pangan keluarga. Apa yang dilakukan ibu-ibu KWT Mawar 8 bisa menginspirasi masyarakat untuk aktif berkebun, menjaga lingkungan, dan mewujudkan kawasan yang hijau, sehat, serta mandiri pangan.

“Kemarin Bu Istri Wakil Walikota juga sempat berkunjung ikutan panen. Ya jadi kebanggan tersendiri karena karena istilahnya bisa terpilih dikunjungi artinya memang ada produk unggulannya,” ujar Vonny.

Harapan ke Depan

Yuliana membayangkan suatu hari nanti KWT Mawar 8 punya produk unggulan yang dikenal luas, bahkan masuk ke rantai industri pangan yang lebih besar. Ia ingin orang-orang yang datang bukan hanya melihat tanaman, tetapi juga melihat bahwa ibu-ibu di lingkungan kecil itu mampu menciptakan sesuatu yang bernilai.

Ada harapan suatu hari nanti kebun kecil di tengah permukiman itu bukan hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga pusat produksi komunitas yang mampu memberi penghasilan lebih layak bagi anggotanya.

Namun jalan menuju keberlanjutan masih panjang. Keterbatasan alat produksi, anggota aktif, hingga risiko gagal panen masih menjadi tantangan sehari-hari. Cuaca ekstrem dan banjir beberapa kali menyebabkan tanaman rusak. Hama pun kerap menyerang. Di titik itulah pendampingan menjadi penting.

BRI sendiri sempat membuka pembicaraan mengenai digitalisasi pembayaran melalui QRIS. Meski belum terealisasi sepenuhnya, langkah itu menunjukkan bagaimana lembaga keuangan mulai melihat komunitas urban farming sebagai bagian dari ekosistem ekonomi mikro yang berpotensi naik kelas.

“Jadi KWT Mawar 8 ke depan tak hanya sekadar bisa menanam/ menuai tapi kami juga ingin memiliki produk yang bisa diandalkan. Misalnya dari hidroponik bisa jadi juice, makanan olahan atau menjadi product continues yang selalu ada. Jadi kalau ada orang datang bisa melihat langsung hasil atau produk unggulan KWT Mawar 8. Kalau bisa masuk ke rantai industri juga bagus sekali,” harap Yuliana.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.