AKURAT.CO Jawa Suriname merupakan sebutan untuk orang-orang Suku Jawa yang berada di Suriname sejak akhir abad ke-19. Suriname sendiri merupakan negara yang terletak di Benua Amerika.
Orang-orang Jawa di Suriname masih menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Hanya saja perbedaannya di kosa kata dan tata bahasa. Bahasa Jawa Suriname terbentuk dari bahasa pergaulan yang bercampur dengan bahasa Spanyol dan Belanda saat zaman kolonial, sehingga berbeda dengan bahasa Jawa di Indonesia.
Mereka masih memiliki adat dan kebiasaan layaknya Suku Jawa, seperti pesta tayuban, wayang kulit, wayang orang, ludruk, tarian jaran kepang dan lainnya.
Awal Mula Orang Jawa Berada di Suriname
Periode 1890-1939 Kerajaan Belanda mengirimkan 32.956 orang tenaga kerja asal Pulau Jawa ke Suriname. Saat itu Suriname merupakan negara jajahan Belanda.
Tujuan pengiriman ini adalah untuk menambah kekurangan tenaga kerja di perkebunan yang ada di Suriname. Kurangnya tenaga kerja ini merupakan dampak dihapusnya sistem perbudakan pada 1 Juli 1863.
Pertimbangan lain Pemerintah Belanda mengirim tenaga kerja ke Suriname adalah karena rendahnya perekonomian penduduk di Pulau Jawa saat itu akibat bencana alam gunung berapi dan padatnya jumlah penduduk.
Akan tetapi, menurut Prof. DR. Yusuf Ismaildi dari Universitas Leiden pada 1949, bukan kelebihan penduduk yang menjadi alasan untuk bermigrasi ke Suriname. Melainkan di satu sisi kemelaratan yang sangat diderita penduduk di beberapa daerah Pulau Jawa dan di sisi lain kepentingan perkebunan-perkebunan Suriname yang membutuhkan tenaga kerja.
Apakah Orang Jawa Suriname Tak Ingin Kembali ke Tanah Air?
Berdasarkan hasil pemilu di Suriname pada 1950, Suriname menjadi daerah otonom di bawah Kerajaan Belanda. Oleh karena itu, seluruh penduduk Suriname menjadi warga negara Belanda. Ketentuan ini ditentang oleh 75 persen warga Indonesia di negara itu karena mereka ingin tetap menjadi warga negara Indonesia dan kembali pulang.
Akhirnya delegasi Jawa Suriname dikirim ke Indonesia dan menghadap Presiden RI untuk menyampaikan keinginan itu. Pada 15 Oktober 1951 mereka mendirikan Yayasan Tanah Air (YTA) dengan tujuan utama kembali ke Pulau Jawa.
Awalnya pemerintah RI berencana menempatkan para Jawa Suriname ini di daerah Metro, Provinsi Lampung, dengan alasan padatnya penduduk di Pulau Jawa. Namun setelah mempertimbangkan berbagai hal akhirnya pemerintah menempatkan mereka di Tongar, Sumatra Tengah. Semua biaya yang dikeluarkan ditanggung oleh masing-masing orang.
Hingga pada 12 Februari 1954, orang-orang Jawa Suriname ini tiba di Tongar, tepatnya di Desa Harapan Tongar. Kondisi Tongar saat itu masih hutan lebat, belum ada sekolah dan pasar.
Mengingat lapangan pekerjaan yang belum memadai maka secara berangsur-angsur orang Jawa Suriname ini mulai meninggalkan Tongar untuk mencari pekerjaan.
Hingga saat ini orang Jawa di Suriname masih ada dan tetap menjalin hubungan dengan kerabat atau keluarganya di Indonesia. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







