Akurat
Pemprov Sumsel

Gelar Sekolah Damai di Semarang, Upaya BNPT Ciptakan Lingkungan Pendidikan Aman, Damai dan Penuh Nilai Toleransi

Mukodah | 21 Mei 2024, 11:54 WIB
Gelar Sekolah Damai di Semarang, Upaya BNPT Ciptakan Lingkungan Pendidikan Aman, Damai dan Penuh Nilai Toleransi

AKURAT.CO Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kembali menggelar lanjutan program Sekolah Damai, kali ini di SMA 3 Semarang pada Senin (20/5/2024).

Pelaksanaan program ini merupakan upaya BNPT berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi, Duta Damai Dunia Maya Provinsi Jawa Tengah, serta SMA 3 Semarang.

Deputi 1 Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Roedy Widodo, dalam kesempatan itu mengatakan, kegiatan di SMA 3 Semarang merupakan kegiatan keempat yang digelar BNPT melalui Subdit Kontra Propaganda.

Sebelumnya, Sekolah Damai sudah digelar di SMA 1 Palu, SMA 3 Serang dan Ponpes Darussalam Blokagung, Banyuwangi.

Baca Juga: Ratusan Guru dan Pelajar di Banyuwangi Jadi Peace Ambassador BNPT Lewat Program Sekolah Damai

"Program Sekolah Damai ini adalah bagian dari upaya kita bersama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, damai dan penuh dengan nilai-nilai toleransi. Itu penting dalam rangka untuk melawan intoleransi yang bisa mengarah ke radikalisme dan terorisme, kekerasan dan bullying," jelas Roedy.

BNPT sengaja memilih SMA 3 Semarang sebagai tempat pelaksanaan pertama Sekolah Damai di Jawa Tengah dengan pertimbangan bahwa sekolah ini adalah sekolah favorit yang banyak mencetak pejabat negara.

Di samping itu, dukungan dari satuan pendidikan sendiri seperti guru, siswa dan para alumni serta stakeholder terkait juga luar biasa.

Roedy menguraikan bahwa Sekolah Damai merupakan bagian dari tujuh program prioritas yang dicanangkan oleh Kepala BNPT, Komjen Prof. Dr. Mohammed Rycko Amelza Dahniel.

Dengan Sekolah Damai diharapkan dapat menciptakan public resilience (ketahanan masyarakat) dan public awareness (kepedulian masyarakat) untuk menumbuhkembangkan suatu ketahanan di satuan pendidikan, lingkungan masyarakat.

"Harapannya masyarakat dan para siswa memiliki daya tangkal, daya cegah dan deteksi dalam melawan potensi intoleransi yang mengarah ke radikalisme dan tindak pidana terorisme," katanya.

Kegiatan hari pertama Sekolah Damai di SMA 3 Semarang diisi dengan Pelatihan Guru dalam Rangka Menumbuhkan Ketahanan Satuan Pendidikan dalam Menolak Paham Intoleransi, Kekerasan dan Bullying.

Baca Juga: Kepala BNPT Dukung Upaya Dorong Partisipasi Aktif Perempuan Sebagai Agen Perdamaian dalam Konferensi Nasional WGWC

Turut hadir pada kegiatan ini Direktur Pencegahan BNPT, Prof. Irfan Idris; Kakanwil Kemendikbudristek, Dr. Uswatun Hasanah; Kepala SMAN 3 Semarang, Drs. Yuwana.

Narasumber menghadirkan Mohammad Abdullah Darraz (dosen Uhamka), Sri Puji Mulyo Siswanto (mitra deradikalisasi) dan Muslicha (dosen program studi bimbingan dan konseling Pusat Kajian Konseling Pendidikan dan Komunitas Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Unes).

Lebih lanjut Roedy menguraikan bahwa pendidik mempunyai tugas besar dalam menyelamatkan generasi bangsa.

Apalagi penyelenggaran kegiatan tepat pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan masih dalam bulan yang sama dengan Hari Pendidikan Nasional.

"Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Berangkat dari hati nurani dan kesadaran serta panggilan jiwa. Jangan pernah melupakan perah seorang guru yang luar biasa," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa BNPT memiliki tujuh program prioritas di tahun 2024.

Pertama, perlindungan perempuan, anak dan remaja dari ancaman radikal terorisme.

Berdasarkan penelitian, tingkat keterpaparan kaum perempuan, remaja dan anak mencapai 70 persen.

"Dari hasil evaluasi peningkatan keterpaparan itu diketahui akibat sebagaian besar pengguna internet sekarang adalah perempuan, remaja dan anak melalui medsos dan internet. Perlu kita ketahui bahwa perekrutan paham intoleransi dan radikal terorisme bukan lagi secara tradisional tapi menggunakan teknologi internet," jelas Roedy.

Program kedua adalah Desa Siap Siaga. Kemudian program ketiga Sekolah Damai.

Kemudian program pembentukan Kampus Kebangsaan dengan mengajak perguruan tinggi menjadi benteng kebangsaan yang mendorong semangat persatuan dan kesatuan di kalangan mahasiswa.

Program prioritas kelima adalah asesmen pegawai dengan tugas risiko tinggi.

Keenam penanganan WNI yang terafiliasi dengan Foreign Terrorist Fighter (FTF).

Dan ketujuh, program reintegrasi dan reedukasi mitra deradikalisai serta keluarga di luar lapas.

"Program ketujuh ini melakukan reintegrasi dan pendidikan ulang bagi mantan narapidana terorisme beserta keluarganya agar dapat kembali ke masyarakat dengan baik," ujar Roedy.

Ia berharap seluruh elemen sekolah, baik guru maupun siswa dapat mendukung pelaksanaan program Sekolah Damai.

"Mari bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang damai, penuh toleransi dan saling menghargai sehingga dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di seluruh Indonesia," ajak Roedy.

Program Sekolah Damai ini diisi dengan pelatihan, diskusi dan kegiatan lain yang bertujuan untuk mengenali tanda-tanda intoleransi, kekerasan dan bullying.

Juga bagaimana bisa bertindak secara proaktif untuk mencegahnya.

"Kita juga membahas pentingnya membangun sikap empati, menghargai perbedaan dan memperkuat solidaritas antara seluruh komunitas di satuan pendidikan," tutur Roedy.

Dengan menciptatakan lingkungan belajar yang aman, inklusif dan mendukung tidak hanya memberikan tempat siswa untuk berprestasi secara akademik tetapi juga jadi tempat pertumbuhan holistik bagi setiap individu.

Hal itu sejalan dengan tema Sekolah Damai yaitu Menumbuhkan Ketahahan Satuan Pendidikan dalam Paham Intoleransi, Kekerasan dan Bullying.

Roedy mengungkapkan bahwa pendidikan adalah panggung utama membentuk karakter generasi penerus bangsa.

Karena itu, dengan tema hari kedua yakni Pelajar Cerdas Cinta Damai tidak hanya merujuk kecerdasan intelektual tetapi juga cerdas emosional dan sosial.

"Mari kita bersama menjadi agen perdamaian di setiap sekolah masing-masing untuk membimbing para pelajar menjadi generasi yang mampu menolak segala bentuk intoleransi dan kekerasan," pungkas Roedy.

Adapun, pelaksanaan hari pertama Sekolah Damai di Semarang diikuti kurang lebih 100 guru dari berbagai SMA di Kota Semarang.

Pada hari kedua (Selasa, 21/5/2024), giliran 600 pelajar dari beberapa SMA di Kota Semarang mengikuti kegiatan Pelajar Cerdas Cinta Damai.

Husein Ja'far Al Hadar dan tim dari Pusat Media Damai (PMD) BNPT memberikan materi tentang pencegahan intoleransi, kekerasan dan bullying.

Selain itu, para peserta juga akan mengikuti sejumlah lomba kreatif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK