Ridwan Kamil Berduka atas Wafatnya Prof. Danisworo: Beliau Ayah Kedua Saya

AKURAT.CO Calon Gubernur Jakarta nomor urut 1, Ridwan Kamil (RK), merasakan duka yang mendalam usai berpulangnya guru besar arsitektur dan desain kota, Prof. Mohammad Danisworo, pada Jumat kemarin.
Menurutnya, Prof. Danisworo merupakan dosen kesayangan yang sudah dianggap sebagai ayah keduanya. Dia mengakui, Prof. Danisworo memiliki banyak kontribusi atas kehidupannya selama ini.
"Saya sangat kehilangan karena Prof. Danisworo merupakan tokoh tata kota ternama. Beliau adalah ayah kedua saya, yang mengirim saya studi ke Amerika," kata RK di Jakarta Utara, Sabtu (12/10/2024).
Gelar Master Urban Design dari University of California, Berkeley, yang dia miliki saat ini tidak lepas dari peran Prof. Danisworo. Dia pun berjanji, akan meneruskan cita-citanya jika terpilih di Pilkada Jakarta
Baca Juga: Ridwan Kamil Siapkan Solusi untuk Warga Jakut, Kesejahteraan Nelayan hingga Pendidikan
"Prof. Danisworo banyak berjasa buat hidup saya. Saat saya kekurangan uang, yang memberi bantuan juga beliau. Prof Danisworo yang mendorong saya menjadi staf ahli Pak Sutiyoso sepulang dari Amerika Serikat. Secara karier, saya banyak dibimbing. Saya akan meneruskan cita-citanya bila nanti saya terpili menjadi orang nomor satu di Jakarta," kata mantan Gubernur Jawa Barat itu.
Sebelum wafat, Prof. Danisworo sempat berpesan kepadanya untuk membangun manusia Jakarta, bukan hanya membangun gedungnya saja.
"Kang Emil, kalau nanti jadi gubernur jangan hanya membangun gedung saja, tapi juga membangun warganya, membangun komunitas lainnya. Insyaallah pesan itu saya akan jalankan," ungkap RK menirukan ucapan Prof. Danisworo.
Sebagai informasi, Prof. Mohammad Danisworo menempuh pendidikan strata 1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan arsitektur. Kemudian, ia meneruskan studi tentang rancang kota di University of California, Berkeley dan memeroleh gelar doktoral Urban Environmental Planning dari University of Washington.
Setelah menyelesaikan studi, Prof. Danisworo memulai karir profesionalnya di biro arsitektur Skidmore, Owing and Merril (SOM), Chicago.
Pria kelahiran Semarang, 2 April 1938 ini, pernah mengkritik keras tentang tata kota Jakarta. Menurut dia, Jakarta belum bisa dikatakan berfungsi sebagai sebuah kota, apalagi sebaagai kota yang berkualitas, menarik secara visual, dan ramah lingkungan.
Penilaiannya itu didasarkan pada tiga prinsip utama, yakni kualitas fungsional, kualitas visual, dan kualitas lingkungan. Dari sisi kualitas fungsional, Jakarta harus menjadi kota yang menjamin keselamatan, keamanan, kenyamanan, efektivitas dan efisien warganya dalam beraktivitas.
Sementara, dari sisi kualitas visual berkaitan dengan kejelasan, estetika, karakter, dan jati diri kota. Warga harus bisa bergerak dengan mudah lantaran dipandu oleh petunjuk arah, lancar, tidak chaos.
Sedangkan dari sisi kualitas lingkungan, Jakarta harus bisa beradaptasi dengan iklim, ekologi, sosial, dan budaya. Jakarta antara lain harus bisa menyediakan ruang bagi warganya untuk berinteraksi sosial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








