Pemuda Indonesia Penting Bangun Gerakan Sosial Lawan Intoleransi dan Promosikan Toleransi

AKURAT.CO Sumpah Pemuda yang dirumuskan pada 28 Oktober 1928 harus selalu diingat seluruh warga Indonesia, khususnya generasi muda.
Karena esensinya yang meletakkan semangat nasionalisme di Nusantara.
Pada masanya, kongres pemuda mampu menyatukan kesadaran berbagai serikat kepemudaan, walaupun di antara mereka banyak perbedaan.
Akademisi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka, Muhammad Abdullah Darraz, menjelaskan bahwa pemuda Indonesia harus mampu menjadi pihak yang mengobarkan semangat nasionalisme.
Pun di era sekarang ini ia berharap agar generasi muda Indonesia dapat menjadi pionir dalam melawan ujaran kebencian dan diskriminasi.
Hal ini perlu dilakukan dengan proaktif membangun komunikasi terhadap kelompok masyarakat yang rentan mendapatkan perlakuan intoleransi.
Dengan demikian, kesetaraan hak sebagai sesama warga negara Indonesia bisa terjamin.
"Penting bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk membangun gerakan sosial yang bertujuan melawan intoleransi dan mempromosikan toleransi. Mereka dapat menggunakan media sosial dan platform digital untuk menyebarkan pesan-pesan toleransi dan mengajak orang lain untuk bergabung," jelas Darraz, dalam keterangannya, Jumat (1/11/2024).
Baca Juga: KPK Terus Usut Korupsi dalam Proyek Pembangunan Jalan di Kaltim
Menurutnya, Sumpah Pemuda mengajarkan bangsa ini untuk benar-benar bersungguh-sungguh dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.
Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti terorisme, radikalisme, fragmentasi dan konflik horizontal.
"Apalagi ketika menghadapi perhelatan kontestasi politik yang cenderung menciptakan fragmentasi sosial di tengah masyarakat, maka pesan Sumpah Pemuda mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kesatuan untuk menghadapi tantangan tersebut," jelas Darraz.
Selain itu, Darraz menyatakan bahwa Sumpah Pemuda telah menegaskan prinsip keutuhan dalam perbedaan.
Perbedaan tidak sepatutnya menjadi alasan dan penyebab bangsa Indonesia tidak bisa maju dan jaya.
Perlu dipahami jika para pemuda-pemudi yang mengikrarkan diri pada peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, itu berasal dari latar belakang suku, agama serta ras yang beragam dan berbeda.
Oleh karena itu, Sumpah Pemuda dianggap sebagai penegasan bahwa perbedaan yang ada bukanlah penghalang untuk bersatu dan membangun bangsa.
Darraz juga mengingatkan bahwa di dalam Sumpah Pemuda terkandung nilai-nilai demokrasi dan keadilan.
Dalam kondisi apapun, para pemuda dan pemudi Indonesia perlu terus memperjuangkan demokrasi yang adil dan bermartabat.
"Sumpah Pemuda membawa pesan tentang pentingnya memperjuangkan Kebebasan, Kemerdekaan, kemakmuran dan keadilan. Sumpah Pemuda adalah bukti tekad bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Bahkan Sumpah Pemuda mengajarkan kita tentang kebebasan yang penuh tanggungjawab dalam membangun bangsa ini, melepaskan bangsa ini dari jerat kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan. Oleh karenanya, melalui spirit Sumpah Pemuda, kita perlu terus berjuang untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia," tokoh muda Muhammadiyah ini memaparkan.
Baca Juga: Perludem Usulkan UU Pemilu Direvisi Lewat Prolegnas
Darraz yang juga sering menyoroti isu kebangsaan dalam penelitiannya menambahkan bahwa generasi muda Indonesia harus punya peranan dalam menguatkan semangat nasionalisme di lingkungannya masing-masing.
Hal ini bisa dimulai dengan mencegah sebaran informasi yang bermuatan intoleransi, radikalisme, bahkan yang mengarah pada tindak terorisme.
"Pemuda Indonesia sedini mungkin harus meningkatkan literasi dan sikap kritis terhadap paparan Informasi. Generasi muda harus aktif mencari informasi dari berbagai sumber, tidak hanya dari media sosial, namun juga dari referensi dengan penulis yang kompeten di bidangnya. Mereka perlu belajar membedakan informasi yang kredibel dan akurat dari informasi yang menyesatkan atau provokatif," jelasnya.
Generasi muda juga perlu mempromosikan dialog dan toleransi.
Dengan segala keragaman Indonesia, generasi muda harus dapat membangun komunikasi yang sehat dan bahkan dapat berperan aktif sebagai jembatan penghubung antar kelompok dengan perbedaan keyakinan, budaya atau latar belakang.
"Kuncinya adalah pada perjumpaan dengan komunitas yang berbeda. Mereka dapat memulai dialog yang terbuka dan saling menghormati untuk memahami perspektif yang berbeda," demikian Darraz.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







