Psikolog: Keluarga jadi Kunci Pemulihan bagi Pecandu Judi Online

AKURAT.CO Judi online tidak hanya merusak kondisi finansial seseorang, tetapi juga menghancurkan kesehatan mental dan hubungan keluarga.
Psikolog klinis, Ratih Ibrahim, menyoroti, banyak korban judi online yang akhirnya kehilangan kepercayaan keluarga dan terjebak dalam tekanan psikologis yang berat.
Ratih, yang juga direktur klinik konsultasi psikologi Personal Growth, mengungkapkan, sebagian besar korban yang datang untuk konsultasi sering kali dipaksa oleh keluarga.
"Dari 10 orang, hanya satu atau dua yang datang atas inisiatif sendiri. Selebihnya dibawa keluarga dengan ultimatum seperti ancaman cerai atau pemutusan hubungan keluarga,” ujarnya di Jakarta, Selasa (26/11/2024).
Baca Juga: Polri Evaluasi Ketat Penggunaan Senjata Api Usai Kasus Polisi Tembak Polisi
Korban judi online kebanyakan berusia produktif, yakni 18-40 tahun. Mereka sering mengeluhkan keretakan hubungan keluarga serta tekanan finansial akibat utang yang menumpuk.
"Mereka merasa cemas, tertekan, bahkan paranoid. Namun, di sisi lain, tetap merasa tergoda untuk terus berjudi," tambah Ratih.
Kecanduan judi online membawa korban dalam pergulatan emosi yang berat, seperti depresi, perasaan takut, dan kehilangan kepercayaan diri.
Korban juga sering mengisolasi diri karena khawatir dengan stigma sosial. Akibatnya, hubungan sosial mereka memburuk karena rasa curiga terhadap orang lain.
Ratih menekankan, pemulihan dari kecanduan ini membutuhkan dukungan yang besar dari keluarga.
"Keluarga punya peran yang sangat penting. Dukungan emosional seperti mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan semangat, dan menunjukkan empati dapat membantu korban merasa diterima dan lebih termotivasi untuk sembuh," jelasnya.
Baca Juga: TPS 012 Sumber Siap Sambut Jokowi dan Keluarga di Hari Pencoblosan
Tidak hanya memberikan dukungan emosional, keluarga juga harus terlibat aktif dalam proses pemulihan. Ratih menyarankan beberapa langkah konkret yang bisa diambil, seperti:
- Membantu manajemen keuangan: Mencegah korban mengakses dana yang dapat digunakan untuk berjudi.
- Mengikuti sesi terapi: Kehadiran keluarga dalam terapi dapat memberikan motivasi tambahan bagi korban.
- Menyibukkan korban dengan aktivitas positif: Mengajak mereka berolahraga, bercocok tanam, atau kegiatan lain yang dapat mengalihkan perhatian dari judi.
- Bersikap tegas: Selain memberikan dukungan, keluarga juga harus menetapkan batasan yang jelas dan disiplin.
"Pemulihan dari kecanduan judi online bukan hanya tanggung jawab korban. Keluarga, komunitas, bahkan pemerintah memiliki peran besar dalam memastikan mereka tidak kembali ke kebiasaan lama," tegas Ratih.
Dengan kolaborasi yang erat antara keluarga dan lingkungan sekitar, diharapkan korban kecanduan judi online bisa bangkit dan menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








