Akurat
Pemprov Sumsel

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Usulkan Museum Peradaban Islam Nusantara di Masjid Istiqlal

Fajar Rizky Ramadhan | 12 Desember 2024, 09:00 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Usulkan Museum Peradaban Islam Nusantara di Masjid Istiqlal

AKURAT.CO – Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengusulkan pembangunan Museum Peradaban Islam Nusantara yang lebih besar di lingkungan Masjid Istiqlal. Hal ini disampaikan saat ia membuka Festival Harmoni Istiqlal di Jakarta pada Selasa (10/12/2024).

"Kita perlu memiliki suatu museum peradaban Islam yang representatif, termasuk dengan ciri-cirinya yang khas. Bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan damai, toleran, dan merangkul budaya," ujar Fadli Zon.

Menurutnya, museum tersebut nantinya akan menjadi simbol penting dari sejarah Islam di Indonesia yang harus lebih dikenal oleh masyarakat dunia. Indonesia, katanya, memiliki potensi besar untuk menjadi ibu kota kebudayaan dunia, termasuk kebudayaan Islam.

Baca Juga: Bukan Lagi Istiqlal, Pemerintah Bakal Alihkan Status Masjid Negara ke IKN

Dia juga menyoroti pentingnya memanfaatkan ruang-ruang publik di Masjid Istiqlal untuk mendukung gagasan tersebut. "Ke depan ada satu museum peradaban Islam yang lebih besar, karena Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar," tambahnya.

Fadli Zon menjelaskan bahwa Islam telah berkembang di Indonesia jauh sebelum abad ke-13. Berdasarkan temuan artefak dan koin-koin di Tapanuli Tengah, ia mengungkapkan bahwa Islam masuk ke Nusantara sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7 Masehi.

"Banyak ditemukan koin-koin dari Dinasti Umayyah dan sampai terus ke Dinasti Abbasiyah," jelasnya.

Museum ini dirancang tidak hanya untuk memamerkan artefak sejarah Islam di Indonesia tetapi juga untuk menonjolkan karakteristik Islam Nusantara yang berkembang secara damai, toleran, dan akomodatif terhadap budaya lokal.

Fadli Zon menekankan pentingnya proses akulturasi budaya dalam membedakan Islam di Indonesia dari negara-negara Muslim lainnya. "Islam di Indonesia tidak menghancurkan formalitas budaya, tapi justru menyerap budaya lokal lewat berbagai tradisi, termasuk gamelan yang diperkenalkan oleh para wali. Esensialisme Islam tetap dijaga, sementara tradisi lokal tetap dihargai," katanya.

Baca Juga: Hamas-Fatah Bersatu, Fadli Zon: Palestina Bisa Lebih Mudah Raih Kemerdekaan

Merespons gagasan tersebut, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH Nasaruddin Umar, menyatakan dukungan penuh. Ia mengatakan bahwa Masjid Istiqlal memang dirancang sebagai titik temu antara agama dan kebudayaan.

"Insya Allah mungkin kita akan berikan satu space khusus untuk Kementerian Kebudayaan untuk menyimpan segala sesuatu yang perlu kita tampilkan sebagai simbol budaya Indonesia di lingkungan Masjid Istiqlal ini," ujarnya.

Selain museum, akan dibangun pula perpustakaan hadis yang menjadi miniatur perpustakaan hadis di Madinah, Arab Saudi. "Jadi Insya Allah kita sudah merancang lantai lima ini nanti kita akan bikin semacam galeri atau Museum Istiqlal dan tentu kita akan dikerjasamakan dengan Kementerian Kebudayaan," tambah Nasaruddin Umar.

Gagasan ini diharapkan dapat memperkuat peran Masjid Istiqlal sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan yang mencerminkan keunikan Islam di Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.