Pemerintah Bakal Beri Sanksi ke Platform Medsos yang Beri Akses ke Anak di Bawah Umur

AKURAT.CO Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan akan memberikan sanksi platform media sosial yang memberikan akses kepada anak-anak di bawah umur jika regulasi sudah ditetapkan.
Hal ini ia sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/2/2025).
Dia mengatakan, Kementerian Komdigi tidak dapat mengatur mengenai larangan sepenuhnya kepada anak-anak untuk bermain media sosial. Karena akan sulit dijangkau oleh pihaknya.
Baca Juga: Menkomdigi: Pembatasan Akun Medsos untuk Kebaikan Anak, Bukan Batasi Akses Internet
Sehingga, yang paling ditekankan adalah perintah kepada platform media sosial untuk melarang anak di bawah umur mengakses pembuatan akun.
"Jadi harus ada teknologi yang dimiliki oleh platform ini yang bisa mengecek bahwa anak ini 15 tahun dia tidak boleh masuk, atau 16 tahun dia tidak boleh masuk, tapi kalau di rumahnya itu kami kalaupun ada aturan dia tidak masuk ranah dari Kementerian Komunikasi Digital," jelasnya.
"Misalnya pelarangan orang tua memberikan hp-nya dan itu sulit sekali untuk melakukan pengawasan. Jadi kami juga mau membuat aturan yang bisa kita awasi indikatornya jelas kalau yang terjadi di rumah itu kami tidak bisa mengawasi," tambahnya.
Baca Juga: 20 Link Download Poster Imlek 2025 Terbaru, Desain Unik dan Menarik Untuk Diunggah di Medsos
Maka dari itu, Meutya menyebut, sanksi akan diberikan kepada platform media sosial, bukan kepada masyarakat atau orang tua yang tidak mengawasi anak-anaknya.
"Dan sekali lagi sanksi yang akan ada Bapak, Ibu, bukan sanksi kepada masyarakat jadi sanksi kepada platform. Jadi ini tidak akan memberikan sanksi kepada anak-anak ini tidak akan memberikan sanksi kepada orang tua, ini memberikan saksi kepada platform," jelasnya.
"Platform yang membiarkan anak-anak bisa masuk melalui, membuat akun itulah yang kena. Ini dampaknya juga luar biasa tapi artinya bukan ranah Menkomdigi untuk misalnya memastikan bapak ibunya tidak memberikan aksesnya, karena secara teknologi kita tidak bisa pantau. Itu kami sekali lagi tidak mau membuat undang-undang yang tidak bisa kami pastikan jalan atau tidak," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








