Akurat
Pemprov Sumsel

Akulturasi Budaya Kunci Harmoni Islam di Indonesia

Mukodah | 19 Juli 2025, 13:17 WIB
Akulturasi Budaya Kunci Harmoni Islam di Indonesia

 

AKURAT.CO Islam yang berkembang di Indonesia memiliki kekhasan yang selaras dengan budaya lokal dan nilai-nilai keislaman.

Islam Indonesia memiliki karakteristik yang khas karena secara antropologis dan sosiologis disesuaikan dengan budaya Indonesia melalui skema akulturasi.

"Islam itu disesuaikan dengan budaya Indonesia tanpa mengubah aspek-aspek yang sifatnya mendasar," kata influencer milenial sekaligus ustaz muda, Habib Husein Ja'far Al Hadar, atau akrab disapa Habib Ja'far, dalam keterangannya, Sabtu (19/7/2025).

Baca Juga: Soal Beras Premium Dioplos, Begini Hukumnya dalam Islam

Dia menjelaskan, dalam Hukum Islam, akulturasi atau penyesuaian ini dikenal dengan 'urf, di mana adat kebiasaan yang baik dapat menjadi hukum tanpa mengubah aspek-aspek fundamental Islam, baik dari sisi teologi, fikih maupun tafsir Al-Qur'an dan sunah.

Habib Ja'far mencontohkan, pelaksanaan zakat fitrah di Indonesia menggunakan beras sebagai makanan pokok, berbeda dengan di Arab yang menggunakan gandum atau kurma.

Hal ini lumrah terjadi karena inti dari zakat fitrah adalah memberikan makanan pokok kepada mereka yang membutuhkan.

Baca Juga: Sound Horeg Haram Menurut MUI, Apa Solusi Islam Menanggapi Ini?

Oleh karena itu, perlunya kedewasaan dan kebijaksanaan dalam menerima informasi atau mendengar ceramah dari ulama yang berasal dari luar Indonesia.

Apakah ceramah tersebut bisa disesuaikan dengan karakter bangsa atau tidak. Jangan sampai umat malah mudah menghakimi atau memprovokasi orang lain yang tidak sependapat.

"Akulturasi inilah yang menyebabkan Islam di Indonesia begitu kuat. Meskipun kita dijajah dalam waktu yang lama, nilai-nilai Islam tetap terjaga karena telah berbaur dengan budaya Indonesia itu sendiri," kata Habib Ja'far.

Baca Juga: Ada Ular Kecil Masuk Rumah, Pertanda Apa Menurut Islam?

Menanggapi adanya kelompok garis keras yang kerap membenturkan Islam dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa, dia menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak tepat.

Dia berpandangan bahwa keduanya tidak bisa disandingkan karena memiliki nilai-nilai yang sama dalam konteks berbeda.

Menurut Habib Ja'far, menjunjung tinggi nasionalisme dan menjadi muslim seutuhnya adalah hal yang sudah sepatutnya dijalankan bersamaan. Karena nilai luhur kebangsaan dan ajaran agama sama-sama menentang ketidakadilan dan kezaliman.

Baca Juga: Mewujudkan Mimpi Gus Dur: Sinta Nuriyah dan Pramono Bahas Pusat Kajian Islam Asia Tenggara

Dia menganalogikan Pancasila laiknya Piagam Madinah, sebuah kesepakatan yang dibuat Nabi Muhammad SAW untuk mengatur kehidupan secara damai antara umat Islam dengan komunitas lain di Madinah. Setiap sila dalam Pancasila merefleksikan ajaran dasar Islam.

"Bahkan sejak pertama kali dibuat, Pancasila telah melibatkan para ulama-ulama baik dari Nahdlatul Ulama maupun dari Muhammadiyah," tegasnya.

Alumnus Magister Ilmu Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menilai perlunya masyarakat untuk memilah informasi di tengah infiltrasi ideologi transnational dalam konten dakwah di media sosial.

Baca Juga: Sejarah Kesultanan Perlak, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara

Menurutnya, ujian paling dasar untuk sebuah konten dakwah adalah apakah ia mengandung cinta kasih (rahmatan lil 'alamin) dan etika (akhlak).

Pria berdarah Madura dan Arab ini menilai dakwah yang benar bersifat aspirasi, inspirasi dan rasional.

Sebaliknya, dakwah yang keliru cenderung menggunakan narasi provokasi, intimidasi dan emosi.

Baca Juga: Tragis! Korupsi Pertamina Tembus Rp285 Triliun, Apa Hukum Mencuri Uang Negara dalam Islam?

"Kalau nilai-nilai dakwah itu disampaikan dengan provokasi, maka itu sudah jelas bertentangan dengan nilai Islam. Tapi kalau disampaikan sebagai edukasi, maka itu sesuai dengan nilai-nilai Islam," pungkas Habib Ja'far.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK