Akurat
Pemprov Sumsel

Lawan Intoleransi, Kekerasan dan Bullying, Ribuan Siswa di Lima Lokasi Desa Siap Siaga Gelar Deklarasi Pelajar Damai

Mukodah | 17 November 2025, 14:32 WIB
Lawan Intoleransi, Kekerasan dan Bullying, Ribuan Siswa di Lima Lokasi Desa Siap Siaga Gelar Deklarasi Pelajar Damai


 

AKURAT.CO Intoleransi, kekerasan dan bullying menjadi momok menakutkan bagi dunia pendidikan Indonesia. Kemajuaan era digital menjadikan ketiga ancaman itu semakin berbahaya bagi generasi masa depan bangsa.

Kasus peledakan bom di SMAN 72 Jakarta menjadi bukti, kemajuan teknologi bisa menjadi seseorang terpapar paham-paham kekerasan dan intoleransi yang merusak pola pikir.

Hal itulah yang membuat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terus bergerak membuat langkah-langkah pencegahan.

Salah satunya dengan menggelar Deklarasi Pelajar Damai secara serentak di sekolah-sekolah Desa Siap Siaga BNPT di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cirebon. Kegiatan digelar bersamaan dengan upacara bendera rutin hari Senin (17/11/2025).

Baca Juga: Sekolah Damai di Bali: Upaya BNPT Bentengi Dunia Pendidikan dari Paparan Ideologi Intoleran, Kekerasan dan Bullying

Deklarasi Pelajar Damai yang diikuti ribuan siswa ini mendeklarasikan komitmen bersama mewujudkan "Pelajar Damai" sebagai upaya mencegah intoleransi, kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan.

Deklarasi yang digelar dengan suasana khidmat itu menegaskan kembali peran sekolah, bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu tetapi juga ruang pembentukan karakter dan akhlak.

Di Kabupaten Pandeglang, Deklarasi Pelajar Damai digelar di Kecamatan Menes oleh 16 SMA/SMK/SMP.

Mulai dari Camat Menes, Usep Sudarmana SIP; Danramil Menes, Lettu Inf. Ibna Suhar; Kapolsek Menes sampai jajaran Babinsa dan Bhabinkamtibmas dikerahkan menjadi pembina upacara.

Baca Juga: Sekolah Wadah Pembentukan Karakter Bangsa, BNPT Dorong Siswa Banyumas Jadi Duta Toleransi Digital

Di Kecamatan Pasirjambu, Kabupatan Bandung, deklarasi digelar di sembilan SMA/SMK. Kemudian di Kecamatan Padalarang, Bandung Barat, di 18 SMA/SMK, sementara di Kecamatan Rangkasbitung, Lebak, di 15 SMA/SMK dan di Kecamatan Jamblang, Cirebon, di enam SMA/SMK.

Di SMAN 4 Pandeglang, upacara diikuti sekitar 1.300 pelajar. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Danramil Menes, Lettu Inf. Ibna Suhar.

Pada kesempatan itu Danramil Menes membacakan amanat dari BNPT. Ia mengajak para pelajar merenungkan kembali bahwa keberagaman adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sekolah.

Perbedaan latar belakang, agama, penampilan hingga kondisi keluarga kerap menjadi alasan munculnya tindakan merendahkan atau mengejek teman sebaya. Padahal, bentuk sekecil apa pun dari ejekan, pengucilan atau merendahkan adalah tindakan bullying yang harus dihentikan.

Baca Juga: BNPT dan Komisi XIII DPR Kolaborasi Tingkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama Kaum Perempuan

"Kekerasan tidak hanya soal fisik. Kata-kata, tatapan meremehkan dan menjauhkan seseorang dari pergaulan juga bentuk kekerasan yang menyakiti," ujarnya.

Selain bullying, para pelajar juga diberikan pemahaman mengenai bahaya sikap intoleran yakni merasa paling benar dan menolak perbedaan.

Para pembina menekankan bahwa nilai-nilai kebangsaan Indonesia dibangun di atas keberagaman, sebagaimana semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Karena itu, intoleransi yang tumbuh di lingkungan pendidikan dinilai dapat mengancam harmoni sosial.

Baca Juga: Jaga Indonesia dari Intoleransi dan Radikalisme, BNPT Ajak Masyarakat NTT Perkuat Komunikasi dan Deteksi Dini

Kepala SMAN 4 Pandeglang, Dra. Dewi Asiah, menyambut baik Deklarasi Pelajar Damai yang digagas BNPT. Ia menyatakan bahwa sekolah akan menerapkan pembacaan deklarasi tersebut dalam upacara rutin.

"Deklarasi Damai ini langkah positif. Kami akan menyampaikan setiap upacara agar tertanam dalam pikiran siswa," katanya.

Dewi berharap deklarasi itu tidak hanya menjadi seremonial tetapi benar-benar dipahami dan diamalkan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

"Pengucapan Deklarasi Damai harus menjadi nilai yang dihayati, bukan sekadar kata-kata. Harapannya, siswa mampu menerapkannya dalam sikap dan perilaku mereka," tuturnya.

Baca Juga: Napiter Jadi Pengibar Bendera Upacara HUT RI di Nusakambangan, Deputi I BNPT: Bagian dari Penguatan Wawasan Kebangsaan

Karena itulah penguatan disiplin, pengawasan pembelajaran serta pencegahan bullying menjadi prioritas sekolah, menyusul insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta.

Dewi menyampaikan bahwa sekolah harus semakin waspada terhadap aktivitas siswa, terutama terkait penggunaan gawai tanpa pengawasan.

Camat Menes, Usep Sudarmana, yang menjadi pembina upacara di SMA Wali Songo mengatakan, Deklarasi Damai sangat baik agar para pelajar memahami bahaya intoleransi, radikalisme dan bullying.

Dengan begitu, diharapkan mereka bisa menghindari tiga hal tersebut, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Baca Juga: BNPT: Sinergi Lintas Sektoral Kunci Pencegahan Ekstremisme dan Intoleransi

"Deklarasi sangat tepat untuk menunjang program Desa Siap Siaga di Kecamatan Menes ini. Semua unsur pimpinan Muspika Kecamatan Menes, di seluruh sekolah di Menes. Jadi, kami bagi tugas pak kapolsek dengan anggotanya, pak danramil dengan anggotanya dan camat juga dengan anggotnya," terangnya.

Usep berharap dengan adanya deklarasi ini bisa mengingatkan para pelajar bahwa intoleransi, kekerasan dan bullying adalah tindakan tercela dan tidak sesuai norma bangsa Indonesia.

"Mudah-mudahan, dengan deklarasi ini, kita semua komitmen, pemerintah, masyarakat, pelajar untuk melawan bullying, intoleransi dan kekerasan," ujarnya.

Deklarasi Pelajar Damai ini menekankan tiga komitmen utama, yakni mewujudkan sekolah sebagai ruang aman dan damai, tanpa rasa takut, kebencian maupun diskriminasi. Menumbuhkan budaya saling menghargai, termasuk keberanian untuk menolong teman yang menjadi korban intimidasi. Menjadi agen perdamaian, yaitu pelajar yang berani menyebarkan kebaikan, empati serta melindungi satu sama lain.

Baca Juga: Perbanyak Ruang Lintas Agama, Komisi XIII Dorong BNPT Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah

Para siswa juga diajak untuk lebih aktif menciptakan lingkungan positif. Jika melihat teman berbeda, mereka diminta untuk merangkul, bukan menjauhi. Jika melihat teman disakiti, mereka didorong untuk tidak berdiam diri dan mencari bantuan pihak yang tepat.

"Kekuatan pelajar bukan pada otot tetapi pada hati yang memahami, menghargai dan melindungi sesama," kata salah satu penyelenggara.

Melalui deklarasi ini sekolah diharapkan menjadi tempat lahirnya generasi muda yang cerdas, berakhlak dan berjiwa toleran. Para siswa mendukung penuh gerakan Sekolah Damai sebagai langkah nyata menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif dan aman bagi semua.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan deklarasi bersama dan komitmen menjaga sekolah sebagai ruang belajar yang bebas dari intimidasi, intoleransi serta kekerasan dalam bentuk apa pun. Dengan semangat ini, para pelajar berharap dapat menjadi bagian dari perubahan menuju Indonesia yang lebih damai dan beradab.

Baca Juga: BNPT Dorong Peningkatan Ekonomi Mitra Deradikalisasi di Boyolali

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK