Mengembalikan Popularitas Pangan Lokal di Tengah Gempuran Makanan Impor dan Olahan

AKURAT.CO Banyak orang belum menyadari bahwa Indonesia memiliki tanaman pangan yang beragam dan bernilai gizi tinggi. Meski demikian, gempuran pangan impor dan makanan olahan menggeser popularitas pangan lokal secara perlahan.
Research Director Center for Study Indonesian Food Anthropology (IFA), Repa Kustipia, menjelaskan bahwa bahan pangan lokal muncul melalui lintasan sejarah yang panjang. Setiap bahan pangan memiliki konteks sosial dan ekologis, yang membentuk cara manusia mengolah serta mengonsumsinya.
"Tanaman-tanaman umbi seperti talas yang telah menjadi sumber pangan sejak masa awal peradaban dan masih dikonsumsi sampai sekarang. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara sejak lama mengenal sistem pangan yang beragam dan beradaptasi dengan lingkungan," kata Repa dalam talkshow Perspektif Melacak Jejak Pangan Nusantara, dikutip Senin (22/12/2025).
Baca Juga: Mensos Tinjau Dapur Umum di Sibolga, Pastikan Pangan untuk Korban Bencana Masih Terjaga
Namun, perubahan besar terjadi ketika sistem pangan kolonial dan industrial masuk, sehingga banyak bahan pangan lokal kehilangan posisi strategisnya. Sebab, tidak lagi dianggap sejalan dengan tren produksi pangan massal dan perdagangan global.
Sementara itu, Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dwinita Wikan Utami, mengatakan banyak bahan pangan lokal mengandung senyawa penting seperti beta-karoten, vitamin C, hingga antioksidan alami.
Beberapa di antaranya bahkan berpotensi dikembangkan untuk kebutuhan pangan fungsional dan industri kesehatan. "Sayangnya, bahan pangan lokal sering dianggap biasa, padahal secara ilmiah potensinya sangat besar," ujar Dwinita.
Baca Juga: Mentan Amran: Alumni IPB Harus Jadi Kunci Swasembada Pangan RI
Untuk itu, riset berperan penting guna memastikan keamanan, manfaat, dan peluang pengembangan bahan pangan lokal agar dapat dimanfaatkan lebih luas, termasuk melalui kolaborasi dengan industri.
Teknologi sangat berperan untuk mengoptimalkan sumber daya pangan lokal. Melalui inovasi riset seperti pemuliaan tanaman berbasis genomik, kualitas nutrisi dan ketahanan varietas lokal terhadap perubahan iklim dapat ditingkatkan, sehingga menjadi komoditas yang kompetitif.
"Riset memiliki peran strategis untuk memastikan pangan lokal tidak hanya lestari, tetapi juga unggul secara kualitas dan adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. Dengan pendekatan berbasis sains, pangan nusantara dapat naik kelas dan berkontribusi nyata pada ketahanan pangan nasional," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






