Masih Ada Ratusan WNI Terjebak TPPO di Kamboja, Pemerintah Harus Ambil Langkah Lebih Tegas

AKURAT.CO Pemulangan sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dari Kamboja pada Desember 2025, patut diapresiasi. Langkah ini menunjukkan bahwa negara hadir melalui kerja diplomasi perlindungan WNI.
Anggota Komisi I DPR RI, Mahfudz Abdurrahman, mengatakan upaya tersebut mencerminkan komitmen negara untuk menjaga keselamatan dan martabat warganya, di tengah situasi yang kompleks dan penuh risiko.
"Namun, apresiasi ini tidak boleh membuat kita berpuas diri. Fakta bahwa masih terdapat sekitar 600 WNI yang diduga terjebak dalam jaringan TPPO di Kamboja merupakan peringatan serius. Ini bukan persoalan kecil dan bukan pula kasus yang berdiri sendiri," kata Mahfudz, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Akar TPPO Berawal dari Desakan Ekonomi, Modusnya Kian Canggih!
Dia menjelaskan, Indonesia sedang berhadapan dengan kejahatan lintas negara yang terorganisir, sistematis, dan terus memanfaatkan kerentanan ekonomi, serta lemahnya literasi masyarakat terhadap migrasi kerja ke luar negeri.
Menurutnya, kasus WNI yang dipaksa bekerja sebagai admin judi online harus dipahami sebagai pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia. Para korban kehilangan kebebasan, mengalami tekanan psikologis, intimidasi, bahkan ancaman keselamatan.
"Dalam perspektif ini, kehadiran negara bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan kewajiban konstitusional yang tidak dapat ditawar," imbuhnya.
Praktik TPPO juga menyentuh persoalan kedaulatan negara. Ketika ratusan WNI dapat direkrut, dipindahkan, dan dieksploitasi oleh sindikat lintas negara, maka yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan individu, tetapi juga wibawa negara dalam melindungi rakyatnya.
"Negara tidak boleh kalah oleh jaringan kejahatan yang menjadikan manusia sebagai komoditas ekonomi. Sebagai anggota Komisi I DPR RI, saya memandang bahwa pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih tegas, terukur, dan berkelanjutan," tegasnya.
Diplomasi perlindungan WNI harus ditingkatkan, koordinasi lintas kementerian dan lembaga harus diperkuat, serta kerja sama dengan otoritas Pemerintah Kamboja perlu dilakukan secara konkret dan berorientasi hasil.
Baca Juga: Kemenko Polkam Perkuat Kerja Sama Regional Tangani TPPO di Asia Tenggara
Komisi I DPR RI akan terus menjalankan fungsi pengawasan, untuk memastikan penyelamatan dan pemulangan seluruh WNI yang masih terjebak benar-benar menjadi prioritas nasional.
"Di saat yang sama, negara juga harus menindak tegas jaringan perekrut ilegal di dalam negeri. Tanpa penegakan hukum di hulu, tragedi TPPO akan terus berulang," jelasnya.
Pemulangan sembilan korban pada 26 Desember 2025 adalah langkah awal yang penting. Namun, selama masih ada satu WNI yang terjebak dalam praktik TPPO, maka tugas negara belum selesai. Perlindungan warga negara, penegakan HAM, dan penjagaan kedaulatan harus berjalan beriringan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026








