WEF 2026 Bawa Kabar Baik, Soroti Deeskalasi Konflik dan Perang Tarif Global

AKURAT.CO Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menilai pertemuan World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos membawa sejumlah kabar positif di tengah kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan geopolitik dan ekonomi dunia.
"Setelah saya ikuti, saya harus mengatakan sejumlah hal menurut saya memberikan harapan. So, a good news from Davos," ujarnya saat dimintai tanggapan terkait WEF 2026 yang disiarkan YouTube @SusiloBambangYudhoyono, Sabtu (24/1/2026).
Dia menyoroti beberapa perkembangan yang dinilainya penting. Salah satunya adalah meredanya ketegangan terkait isu Greenland, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut melunak dari rencana awal yang memicu kekhawatiran internasional.
"Tadinya akan menjatuhkan sanksi tarif kepada banyak negara di Eropa dan belum diputuskan bagaimana mengambil Greenland ini. Nah, terjadi deeskalasi ketika Presiden Trump melunak," jelasnya.
Menurutnya, sikap tersebut membuka ruang dialog damai antara Amerika Serikat, Eropa, Denmark, dan masyarakat Greenland, sehingga potensi konflik dapat dihindari.
Selain itu, SBY juga melihat adanya harapan baru dalam upaya mengakhiri perang di Ukraina. Dia menyebut, mulai muncul sinyal pertemuan antara pihak-pihak yang bersengketa dengan fasilitasi Amerika Serikat.
"Mudah-mudahan ini memberikan harapan baru untuk pengakhiran perang di Ukraina yang semua berharap segera berakhir," ujarnya.
SBY juga menyinggung isu perang tarif global yang sebelumnya mengemuka. Pembatalan ancaman tarif baru, menurutnya, menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas perdagangan dan ekonomi dunia.
"Kalau ini terjadi, bisa dibayangkan ada instabilitas baru dalam perdagangan dunia. Dengan dibatalkannya ancaman tarif itu, tentu melegakan," kata SBY.
Baca Juga: Prabowo di WEF 2026: Pengentasan Kemiskinan Bukan Sekadar Program
Terkait wacana pembentukan Board of Peace yang juga dibahas dalam forum global, SBY mengaku belum memberikan penilaian lebih jauh karena masih terlalu dini. Namun, dia menegaskan bahwa jika Indonesia terlibat, keputusan tersebut pasti telah dipertimbangkan secara matang oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Nanti pasti Menteri Luar Negeri atau beliau sendiri akan menjelaskan kepada rakyat Indonesia," ujarnya.
Meski Davos memberikan harapan, dunia masih menghadapi banyak pekerjaan rumah yang membutuhkan komitmen dan implementasi nyata dari para pemimpin global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







