Pemerintah Dorong Hilirisasi Lindungi Industri Kreatif dari Dampak Konflik Timur Tengah

AKURAT.CO Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan konflik Timur Tengah yang makin memanas bisa mempengaruhi industri kreatif di Indonesia, terutama yang masih impor.
Untuk itu, diperlukan hilirisasi agar industri kreatif Indonesia juga semakin berkembang dengan sistem pemasaran yang juga menjangkau kawasan Indonesia. Sehingga, industri lokal tidak lagi bergantung pada barang impor.
"Bagaimana industri kreatif kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Industri kreatif yang tadinya impor bisa digantikan dengan produk-produk lokal. Hilirisasi tidak hanya hilirisasi tambang, tapi hilirisasi fashion, hilirisasi kuliner, hilirisasi dari kerajinan dan seterusnya yang kita harapkan itu baik penjualan dan penyerapannya itu dari Indonesia untuk Indonesia oleh Indonesia," kata Teuku, di Jakarta, Kamis (4/3/2026).
Baca Juga: Sugiono Telepon Menlu Iran Tawarkan Perundingan Damai dengan AS-Israel
Langkah ini juga perlu didukung dengan sistem penjualan yang modern melalui platform digital. Dengan demikian, Kementerian Ekonomi Kreatif akan berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk dengan pihak swasta, untuk mengembangkan literasi digital.
Seperti yang dilakukan bersama Shopee Indonesia, untuk mengadakan pelatihan-pelatihan untuk para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), khususnya yang berada di daerah.
"Kita ingin agar pelatihan-pelatihan ini bisa semakin luas, semakin masuk ke berbagai daerah dan juga ke segmen-segmen masyarakat yang dapat mendukung bangkitnya industri kreatif Indonesia," imbuhnya.
Dia berharap, UMKM dan industri kreatif di Indonesia bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia di tengah geopolitik global. Mengingat, kedua sektor ini telah menunjukkan kekuatannya saat Indonesia menghadapi krisis hingga pandemi Covid-19.
Baca Juga: Korps Garda Revolusi Islam Iran Klaim Tewaskan 680 Tentara Israel
"Tentu perlu dukungan semua pihak mulai dari pemerintah, dari pemerintah daerah hingga pemerintah pusat, swasta. Mulai dari swasta nasional, perbankan, akademisi, media masa dan juga asosiasi untuk sama-sama bagaimana dalam situasi," jelasnya.
Selain itu, Teuku juga mengantisipasi gangguan ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia akibat konflik Timur Tengah. Untuk itu, pihaknya akan berkomunikasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan BPS.
"Tetapi yang paling penting adalah bagaimana market dalam negeri ini tetap kita harus jaga. Bagaimana market dalam negeri ini juga diisi oleh produk-produk oleh brand-brand lokal kita baik itu dari fashion, kuliner dan kriya," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









