Akurat
Pemprov Sumsel

Cara Melapor Dugaan Penyiksaan oleh Aparat, Ini Langkah yang Perlu Diketahui

Redaksi Akurat | 26 Maret 2026, 23:18 WIB
Cara Melapor Dugaan Penyiksaan oleh Aparat, Ini Langkah yang Perlu Diketahui
Ilustrasi penyiksaan yang dilakukan oleh aparat.

AKURAT.CO Banyak masyarakat masih ragu melapor saat menyaksikan tindakan kekerasan atau penyiksaan oleh aparat.

Kekhawatiran akan keselamatan diri serta ketidaktahuan prosedur sering menjadi alasan utama.

Padahal, setiap bentuk penyiksaan merupakan pelanggaran hukum dan hak asasi manusia yang wajib ditindaklanjuti. Lalu, bagaimana cara melaporkannya secara benar dan aman?

Bentuk Penyiksaan oleh Aparat

Penyiksaan oleh aparat dapat terjadi dalam berbagai bentuk, baik fisik maupun psikologis, terutama saat korban berada dalam kendali aparat seperti saat penangkapan, pemeriksaan, atau penahanan.

Berikut beberapa bentuk yang umum terjadi:

1. Kekerasan Fisik
Tindakan yang menimbulkan rasa sakit secara langsung pada tubuh, seperti:

  • Pemukulan, tendangan, atau penyeretan

  • Pencekikan atau tindakan yang membatasi pernapasan

  • Penggunaan benda tumpul atau keras

2. Kekerasan Psikologis
Tekanan mental tanpa kontak fisik, antara lain:

  • Ancaman, intimidasi, atau penghinaan

  • Isolasi di ruang sempit atau gelap

  • Penakut-nakutan menggunakan senjata

3. Kekerasan Seksual
Segala bentuk tindakan seksual yang dilakukan secara paksa, seperti:

  • Sentuhan tidak pantas

  • Pelecehan verbal

  • Pemaksaan tindakan seksual

Cara Melapor Tindakan Penyiksaan

Melaporkan dugaan penyiksaan merupakan langkah penting untuk menegakkan hukum dan mencegah pelanggaran serupa terulang. Berikut tahapan yang dapat dilakukan:

Baca Juga: Cara Memasang Jaringan LAN di Rumah, Mudah dan Bisa Dilakukan Sendiri

1. Susun Kronologi Kejadian
Catat secara rinci waktu, lokasi, urutan kejadian, serta bentuk kekerasan yang terjadi. Kronologi yang jelas membantu proses verifikasi.

2. Kumpulkan Bukti Pendukung
Dokumentasi seperti foto, video, atau rekaman suara sangat membantu memperkuat laporan. Namun, keselamatan diri tetap harus menjadi prioritas utama.

3. Cari Saksi
Jika ada pihak lain yang menyaksikan kejadian, mintalah kesediaan mereka untuk memberikan keterangan. Semakin banyak saksi, semakin kuat laporan.

4. Laporkan ke Lembaga Berwenang
Pengaduan dapat disampaikan ke beberapa lembaga, seperti:

  • Divisi Propam Polri untuk pelanggaran anggota kepolisian

  • Komnas HAM untuk dugaan pelanggaran HAM

  • Ombudsman RI untuk maladministrasi atau penyalahgunaan wewenang

5. Gunakan Layanan Pengaduan Daring
Sejumlah lembaga menyediakan kanal pelaporan online, seperti:

  • Komnas HAM: pengaduan.komnasham.go.id

  • Ombudsman RI: ombudsman.go.id/pengaduan

  • Propam Polri: yanduan.propam.polri.go.id

  • LPSK: lapor.go.id

6. Dapatkan Pendampingan Hukum
Jika merasa terancam, pelapor dapat meminta bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) atau organisasi HAM untuk pendampingan selama proses berjalan.

7. Simpan Bukti Laporan
Pastikan menyimpan nomor registrasi atau tanda terima laporan sebagai bukti dan untuk memantau perkembangan kasus.

8. Pantau Proses Penanganan
Pelapor berhak mengetahui perkembangan laporan. Pemantauan ini penting agar kasus tidak berhenti di tengah jalan.

Kesimpulan

Melaporkan dugaan penyiksaan oleh aparat bukan hanya hak, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keadilan dan penegakan hukum.

Dengan memahami prosedur yang benar, masyarakat dapat berperan aktif dalam mencegah pelanggaran dan melindungi hak asasi manusia.

Baca Juga: Mekanisme Pencalonan Presiden di Indonesia: Peran Partai hingga Aturan Terbaru

Laporan: Lilis Anggraeni/magang

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.