Punya Pengurus Baru, IPMG Perkuat Komitmen terhadap Obat Inovatif dan Kepemimpinan yang Beretika

AKURAT.CO International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), asosiasi yang mewakili perusahaan farmasi multinasional berbasis riset di Indonesia, mengumumkan susunan dewan pengurus periode 2026-2028.
Perusahaan anggota IPMG kembali memberikan kepercayaan pada kepemimpinan Evie Yulin (Presiden Direktur Merck Indonesia) sebagai ketua dan George Stylianou (Presiden Direktur Merck Sharp & Dohme Indonesia) sebagai wakil ketua IPMG.
Para anggota meyakini bahwa kepemimpinan mereka akan terus memberikan dampak bermakna bagi pasien di Indonesia, sistem kesehatan, serta industri dalam mendorong visi dan misi IPMG.
"Saya merasa terhormat dan antusias untuk melanjutkan upaya advokasi IPMG dalam meningkatkan ketersediaan dan akses terhadap obat-obatkan inovatif di Indonesia. Saat ini, hanya sekitar sembilan persen obat inovatif yang tersedia di Indonesia dan hanya sekitar dua persen yang dapat diakses melalui pembiayaan publik. Menjembatani kesenjangan ini tetap menjadi prioritas utama IPMG, dan melalui kolaborasi yang kuat, kami berkomitmen untuk memastikan lebih banyak pasien dapat menerima manfaat obat inovatif, memperkuat kesehatan masyarakat, serta mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045," papar Ketua IPMG, Evie Yulin, dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).
Dewan Pengurus IPMG yang baru disahkan ini menghadirkan para pemimpin dengan berbagai latar belakang kepakaran. Termasuk bidang PenilaianTeknologi Kesehatan (PTK), mekanisme harga dan pengadaan, kerangka regulasi, etika, medis dan keselamatan pasien, serta investasi kesehatan.
Hal ini mencerminkan pendekatan yang terkoordinasi dalam memperkuat ekosistem kesehatan di Indonesia.
Baca Juga: Cara Mengatasi Stres Berlebihan Tanpa Obat
Mendorong Akses terhadap Obat Inovatif
IPMG tetap berkomitmen untuk meningkatkan ketersediaan dan akses terhadap obat-obatan inovatif bagi pasien di Indonesia. Meskipun telah terdapat kemajuan, akses masih terbatas, yang menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan.
IPMG terus mendorong terciptanya lingkungan kebijakan yang dapat diprediksi dan transparan, penguatan implementasi Penilaian Teknologi Kesehatan (PTK) termasuk melalui mekanisme stakeholder-led submissions (SLS), pengembangan mekanisme harga dan pengadaan yang berkelanjutan, serta penyelarasan yang lebih kuat antara jalur registrasi, pembiayaan, dan akses pasien.
"IPMG akan terus berperan secara konstruktif dalam mendukung dialog kebijakan serta memperkuat implementasi yang selaras dengan prioritas kesesatan nasional. Kami tetap terbuka untuk berkolaborasi guna membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan meningkatkan daya saing Indonesia," kata Direktur Eksekutif IPMG, Ani Rahardjo.
Baca Juga: 7 Cara Mengobati Sariawan agar Cepat Hilang dan Tidak Perih, dari Obat Alami hingga Medis
Menjunjung Tinggi Standar Etika
IPMG menjunjung tinggi standar etika sebagai fondasi kepercayaan, kesejahteraan pasien, dan sistem kesehatan yang berfungsi dengan baik. Upaya pencegahan korupsi serta interaksi yang bertanggung jawab di seluruh ekosistem kesehatan menjadi kunci dalam menjaga integritas, memperluas akses pasien terhadap obat berkualitas, serta melindungi kepentingan masyarakat.
IPMG mengacu pada Code of Practice dari International Federation of Pharmaceutical Manufacturers and Associations (IFPMA) yang mengatur interaksi dengan tenaga kesehatan, institusi medis, dan organisasi pasien secara global.
IPMG tetap berkomitmen untuk bekerja secara kolaboratif dengan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat sistem kesehatan Indonesia, meningkatkan luaran kesehatan pasien, serta mendorong daya saing nasional.
IPMG meyakini bahwa kesehatan bukanlah biaya, melainkan investasi strategis - yang esensial untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing global.
IPMG adalah asosiasi yang terdiri dari 25 perusahaan farmasi multinasional berbasis riset di Indonesia. Beberapa Anggota IPMG di antaranya Abbott, Actavis, APL, AstraZeneca, B Braun, Bayer, Baxter, Boehringer Ingelheim, Daewoong, Eisai, GSK, Menarini, Merck, Mitsubishi Tanabe, MSD, Meiji, Novartis, Novo Nordisk, Organon, Otsuka, Pfizer, Roche, Servier, Takeda, dan Wellesta.
Baca Juga: Kemenkes: Belum Ada Bukti Ilmiah Obat Herbal Bisa Sembuhkan TBC
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





