Akurat
Pemprov Sumsel

William Heinrich Tawarkan Konsep HIPMI 8 Persen, Upaya Strategis Wujudkan Visi Presiden

Wahyu SK | 15 April 2026, 22:22 WIB
William Heinrich Tawarkan Konsep HIPMI 8 Persen, Upaya Strategis Wujudkan Visi Presiden
Bakal Calon Ketum BPP HIPMI, William Heinrich, menyoroti efisiensi ekonomi nasional yang masih menjadi tantangan. (Dok. Pribadi)

AKURAT.CO Bakal Calon Ketua Umum BPP HIPMI, William Heinrich, menawarkan konsep strategis yang diberi nama "HIPMI 8%", sebagai kontribusi konkret dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Gagasan tersebut disampaikan William sebagai bentuk dukungan terhadap arah kebijakan ekonomi yang tengah dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pemaparannya, William menyebut bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar wacana. Melainkan kebutuhan fundamental agar Indonesia mampu keluar dari jebakan middle income trap.

Menurutnya, momentum bonus demografi harus dimanfaatkan melalui langkah-langkah strategis yang melibatkan seluruh elemen, termasuk pengusaha muda sebagai penggerak sektor riil.

Keterbatasan ruang fiskal negara menjadi alasan kuat mengapa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Oleh karena itu, HIPMI harus mengambil peran lebih aktif sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Hipmi Bengkulu Dukung Ade Jona Prasetyo, Dinilai Punya Visi Kuat Bangun Jejaring Ekonomi

William menekankan bahwa organisasi ini perlu bertransformasi menjadi kekuatan produktif yang mampu menciptakan nilai tambah, bukan hanya bergantung pada proyek-proyek pemerintah.

Ia juga menyoroti persoalan efisiensi ekonomi nasional yang masih menjadi tantangan. Tingginya rasio ICOR menunjukkan bahwa penggunaan modal belum optimal.

"Untuk itu, HIPMI akan hadir sebagai agen penurun ICOR melalui peningkatan Total Factor Productivity (TFP), dengan mendorong digitalisasi usaha, pemanfaatan teknologi, serta efisiensi rantai pasok. Dengan pendekatan ini, investasi diharapkan mampu menghasilkan output yang lebih besar dan berkelanjutan," papar William di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Di sisi lain, ia juga menawarkan solusi dalam memperkuat penerimaan negara. Dalam kondisi pemerintah yang menjaga daya beli masyarakat, termasuk dengan mempertahankan tarif PPN di angka 11 persen, William melihat pentingnya perluasan basis pajak melalui penciptaan lapangan kerja formal.

"HIPMI akan difokuskan sebagai wadah pengembangan pengusaha muda yang mampu tumbuh dan memberikan kontribusi nyata terhadap penerimaan negara," ujarnya.

Baca Juga: Maju Caketum BPP HIPMI, William Heinrich Siap Bertarung Sampai Akhir

Sebagai bentuk komitmen, William menargetkan lahirnya 10.000 pengusaha produktif baru yang mampu bertahan, menghasilkan keuntungan dan menyerap tenaga kerja lokal.

Ia juga berencana melakukan reformasi indikator kinerja organisasi dengan menitikberatkan pada dampak ekonomi nyata, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Jika strategi ini berjalan optimal, kontribusi anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) diproyeksikan dapat menghasilkan tambahan output ekonomi hingga Rp20 triliun di pasar domestik.

Dalam aspek pembiayaan, William menilai bahwa perubahan arsitektur ekonomi nasional membuka peluang besar bagi pengusaha muda.

Kehadiran lembaga investasi seperti Danantara menjadi momentum penting untuk memperkuat akses pendanaan.

Baca Juga: Jona Siap Maju Ketum HIPMI, Dorong Pengusaha Muda Jadi Motor Asta Cita

Untuk itu, HIPMI akan membentuk HIPMI Capital Desk guna menyiapkan anggotanya agar memenuhi standar investasi, termasuk dalam penerapan tata kelola dan prinsip keberlanjutan (ESG).

William menegaskan bahwa konsep HIPMI 8% merupakan langkah strategis yang layak mendapatkan perhatian dan apresiasi.

Ia optimistis bahwa dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan pengusaha muda, target pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat dicapai secara realistis dan berkelanjutan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

W
Reporter
Wahyu SK
W
Editor
Wahyu SK