Dari Ember ke Ribuan Tahu: Kisah Sukinem Bangkit Lewat MBG

AKURAT.CO Di Desa Sumberejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, aroma kedelai rebus telah menguar sejak pagi buta.
Di dapur sederhana itu, Sukinem (67) menjalani hari-harinya di antara tungku, cetakan tahu, dan harapan yang ia rajut selama puluhan tahun.
Usaha tahu miliknya yang diberi nama Ngudi Rejeki bukanlah bisnis instan yang tumbuh dalam semalam. Perjalanan panjang itu dimulai dari langkah kecil dan penuh keterbatasan.
Pada 1997, Sukinem hanya membantu saudaranya. Ia mengangkut tahu dari satu ember ke ember lain, lalu membawanya ke pasar.
Saat itu, tak ada mimpi besar—hanya keinginan sederhana untuk bertahan hidup.
“Awalnya bawa satu ember-satu ember ke pasar,” kenangnya, Minggu (19/4/2026).
Dari pengalaman itulah keyakinannya tumbuh. Hingga pada 2003, ia memberanikan diri membuka usaha sendiri.
Dengan peralatan sederhana dan tenaga terbatas, ia mulai memproduksi tahu dari rumahnya.
Kini, dapur produksinya mampu menghasilkan beragam jenis tahu, mulai dari tahu putih, tahu goreng asin, tahu bulat, tahu bakso, hingga tahu sayur.
Baca Juga: HIPPI Serukan Keseimbangan Pariwisata: Jangan Hanya Kejar Wisatawan, Industri Harus Dilindungi
Di antara semuanya, tahu pong dan tahu putih menjadi produk paling diminati.
Namun, perjalanan usaha itu tak selalu mulus. Ada masa ketika penghasilannya hanya cukup untuk bertahan.
Sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), omzet hariannya berkisar Rp4 juta—angka yang bagi usaha kecil seperti miliknya masih berada di batas tipis antara cukup dan kekurangan.
Perubahan signifikan terjadi ketika Sukinem mulai memasok kebutuhan ke dapur MBG. Kini, dalam sekali pengiriman, ia mampu menyuplai antara 7.000 hingga 9.000 biji tahu per hari.
Produksinya pun meningkat drastis, dari sekitar 2,5 kuintal menjadi hampir 4 kuintal per hari.
Seiring itu, omzetnya turut melonjak, dari Rp4 juta menjadi hampir Rp8 juta per hari.
“Lumayan, untuk usaha kecil seperti saya sangat tertolong,” ujarnya penuh syukur.
Tak hanya satu dapur, Sukinem kini memasok ke tujuh dapur MBG—tiga di Sragen dan empat di Karanganyar.
Pesanan pun relatif stabil, didominasi tahu kempong dan tahu sayur yang mudah diolah menjadi berbagai menu.
Di balik capaian tersebut, tersimpan kerja keras yang tak terlihat. Tangan renta yang tetap sigap mengolah kedelai, serta semangat yang tak surut meski usia tak lagi muda.
Saat ditanya harapannya, Sukinem tak banyak bicara. Namun, sorot matanya menyiratkan rasa haru yang mendalam.
“Terima kasih Pak Prabowo, saya sudah dibantu, usaha saya bisa lancar,” ucapnya terbata.
Air mata perlahan jatuh. Ia mengusapnya, namun tak mampu menyembunyikan rasa syukur yang begitu dalam.
Di dapur kecil itu, Sukinem membuktikan bahwa ketekunan mampu mengubah nasib.
Baca Juga: Ronaldo Nazario: Stadionnya Indah dan Atmosfernya Menyenangkan, Semoga Bisa Kembali ke Sini
Dari ember-ember sederhana yang dulu ia angkut ke pasar, kini lahir ribuan tahu yang tak hanya menghidupi dirinya, tetapi juga memberi manfaat bagi banyak orang.
Dan di antara kepulan asap tungku yang terus mengepul, harapan Sukinem masih terus menyala.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










