Kepala BGN: Rendahnya Pendidikan Orang Tua Penyebab Anak Sulit Mendapatkan Gizi Seimbang

AKURAT.CO Rendahnya rata-rata pendidikan masyarakat Indonesia, yaitu sembilan tahun, menyebabkan minimnya anak-anak bisa mendapatkan makanan bergizi yang seimbang.
"Jadi, anak-anak Indonesia itu, dewasa ini banyak lahir dari orang tua yang pendidikannya hanya lulusan SD. Sehingga tidak heran kalau 60 persen anak tidak punya akses terhadap makan bergizi seimbang, 60 persen anak itu jarang minum susu, bahkan tidak mampu minum susu," jelas Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam keterangannya, Senin (20/4/2026)..
Menurutnya, latar belakang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berangkat dari perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap pertumbuhan penduduk Indonesia yang tinggi dan perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan presiden karena Indonesia masih tumbuh enam orang per menit, tiga juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta tahun 2045. Dan sekarang permasalahannya bukan pertumbuhannya tapi berasal dari mana pertumbuhan itu," kata Dadan.
Selain terhadap kesehatan dan pendidikan, Program MBG juga berdampak luas bagi kemajuan ekonomi lokal.
Baca Juga: Dari Ember ke Ribuan Tahu: Kisah Sukinem Bangkit Lewat MBG
Melalui Program MBG, pemerintah telah melakukan intervensi menyeluruh dengan difokuskan pada dua fase penting, yakni seribu hari pertama kehidupan yang menentukan perkembangan kecerdasan, serta fase usia sekolah yang berperan dalam pertumbuhan fisik yang optimal.
Dadan juga menekankan bahwa keberhasilan program ini diharapkan mampu menekan angka stunting serta meningkatkan kualitas kecerdasan generasi mendatang.
Maka diharapkan dengan program ini, angka stunting bisa dicegah karena rata-rata IQ orang Indonesia sekarang 78.
"Dengan harapan dengan hadirnya program ini nanti 10 tahun 15 tahun ke depan yang lahir hari ini, 20 tahun kemudian akan jadi tenaga kerja produktif itu sudah tidak stunting dan tinggi badannya naik karena kita intervensi dari sekarang," ujarnya.
Dadan menegaskan bahwa hingga saat ini Program MBG telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia melalui 27 ribu SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi). Dengan total penyerapan anggaran mencapai Rp60 triliun.
Baca Juga: Program MBG Menggerakkan Ekonomi Desa, Rp600 Miliar per Hari Mengalir ke Petani dan Peternak
Anggaran telah tersebar dari Sabang hingga Merauke dan berkontribusi dalam menggerakkan roda ekonomi di daerah, termasuk di tingkat desa.
"Alhamdulillah, sekarang sudah menyebar di seluruh Indonesia dan hari ini sudah menyerap anggaran Rp60 triliun. Di mana anggaran itu seluruhnya sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke, menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










