Integrasi Kebijakan Masih Lemah, Program Tumpang Tindih hingga Anggaran Tak Efisien

AKURAT.CO Komisi II DPR RI menyoroti masih lemahnya integrasi kebijakan dalam pembangunan nasional, meski capaian kinerja pemerintah dinilai cukup signifikan. Dengan demikian, tata kelola pemerintahan jadi persoalan mendasar.
"Negara ini tampak bekerja sangat keras—tetapi belum selalu bekerja sebagai satu tubuh. Ia bergerak, tetapi belum tentu searah. Dia membangun, tetapi belum tentu menyatu," ujar Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, persoalan utama pembangunan saat ini bukan lagi pada kekurangan program, melainkan lemahnya arsitektur kebijakan yang menghubungkan berbagai sektor dan lembaga.
Baca Juga: Prabowo Bertemu Luhut Bahas Skenario Kebijakan untuk Jaga Daya Beli Masyarakat
Azis menyoroti pentingnya perbaikan pada aspek data sebagai fondasi utama kebijakan. Sistem data yang belum terintegrasi antar kementerian, membuat pengambilan keputusan menjadi tidak optimal.
"Bagaimana mungkin kebijakan bisa tepat sasaran jika realitas yang menjadi pijakannya sendiri belum utuh?" katanya.
Dia menilai, kondisi tersebut membuat negara seolah berjalan dalam keterbatasan informasi, sehingga berisiko menghasilkan kebijakan yang tidak tepat sasaran.
Selain itu, Azis juga mengkritik masih terjadinya fragmentasi kebijakan lintas kementerian dan lembaga. Menurutnya, koordinasi yang selama ini berjalan belum cukup untuk menghasilkan integrasi yang utuh.
"Akibatnya sederhana, tetapi mahal: program saling tumpang tindih, anggaran tidak efisien, dan hasil tidak mencapai potensi terbaiknya," jelasnya.
Baca Juga: Kelas Menengah Menjerit Usai Harga Naik Serempak, Ini Kebijakan Konkret Yang Dibutuhkan
Dia pun mendorong agar peran kementerian koordinator diperkuat sebagai 'arsitek' kebijakan, bukan sekadar penghubung administratif.
Dalam sektor pangan, Azis mengapresiasi capaian produksi beras nasional yang meningkat, namun mengingatkan bahwa perencanaan belum sepenuhnya berbasis pada kondisi riil di lapangan.
"Ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi cara kita merancang kebijakan—terlalu cepat menetapkan target, tetapi belum cukup dalam memahami kondisi," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









