Akurat Logo

Reshuffle Bisa Jadi Strategi agar Kinerja Kabinet Lebih Solid dan Optimal Sesuai Visi Presiden Prabowo

Moehamad Dheny Permana | 27 April 2026, 13:13 WIB
Reshuffle Bisa Jadi Strategi agar Kinerja Kabinet Lebih Solid dan Optimal Sesuai Visi Presiden Prabowo
Waketum Partai Golkar, Idrus Marham, menyebut reshuffle kabinet bukan soal pergantian figur, melainkan memastikan kinerja kabinet berjalan optimal. Foto: Akurat.co

AKURAT.CO Wacana perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih kembali mencuat di ruang publik beberapa waktu balakangan ini.

Isu reshuffle kabinet terus berkembang setelah Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, memberikan pernyataan singkat yang memicu spekulasi pada awal bulan ini.

"Tunggu saja," kata Seskab Teddy kepada awak media saat ditanya soal rencana reshuffle kabinet, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa (7/4/2026) lalu.

Tanpa menjelaskan panjang lebar, Teddy hanya meminta publik untuk menunggu. Ia juga tidak menjawab secara gamblang ketika ditanya apakah reshuffle tersebut akan dilakukan bulan ini.

"Nanti bapak presiden yang akan menceritakan," ujarnya.

Di tengah berkembangnya isu tersebut, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, menilai bahwa inti persoalan saat ini bukan semata soal pergantian figur, melainkan bagaimana memastikan kinerja kabinet berjalan optimal sesuai visi besar presiden.

Baca Juga: Isu Reshuffle Kabinet Menguat, Golkar: Perlu Tidaknya Tergantung Presiden

Ia menjelaskan, setidaknya terdapat lima fondasi pemikiran yang telah diletakkan oleh Presiden Prabowo sebagai arah kebijakan nasional.

Pertama, presiden sejak awal telah menetapkan prinsip-prinsip dasar pembangunan yang bertumpu pada kesadaran berbangsa dan bernegara. Dalam kerangka ini, Pancasila ditegaskan sebagai ideologi sekaligus panduan utama dalam penyelenggaraan negara.

Kedua, Prabowo menegaskan Indonesia sebagai rumah besar bersama yang harus dirawat secara kolektif. Gagasan ini menekankan pentingnya inklusivitas dan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa dalam menjaga keberlangsungan negara.

Ketiga, pembangunan nasional harus berakar pada realitas kemajemukan. Indonesia yang terdiri dari beragam suku, agama, dan budaya, menuntut adanya persatuan dan kesatuan sebagai fondasi utama stabilitas nasional.

Keempat, presiden telah menetapkan sejumlah kebijakan strategis sebagai implementasi visi pembangunan, termasuk ketahanan dan kemandirian pangan, ketahanan energi, hilirisasi sumber daya alam, serta kesinambungan pembangunan. Agenda ini, dinilai harus menjadi pedoman kerja seluruh menteri.

Kelima, pembentukan Kabinet Merah Putih merupakan langkah untuk mengakomodasi berbagai potensi bangsa. Para menteri dipilih untuk menjadi tim kerja yang solid dalam menerjemahkan visi presiden ke dalam kebijakan operasional.

Baca Juga: Seskab Teddy Soal Isu Reshuffle Kabinet: Tunggu Saja

Sejalan dengan lima fondasi tersebut, Idrus menegaskan bahwa tidak tepat jika kritik yang berkembang di ruang publik justru mengarah pada tuntutan agar Presiden Prabowo mundur dari jabatannya.

Menurutnya, persoalan utama bukan berada pada kepemimpinan presiden, melainkan pada tataran implementasi kebijakan di level kementerian.

"Tidaklah bijaksana apabila secara serta-merta muncul suara-suara yang meminta presiden turun. Masalahnya bukan pada presiden tetapi pada pembantu-pembantunya," ujar Idrus melalui keterangannya, Senin (27/4/2026).

Pada hakikatnya, Idrus menekankan, reshuffle bukan sekedar sebuah evaluasi kinerja, melainkan strategi untuk mendorong penguatan kapasitas kelembagaan, optimalisasi koordinasi, dan efektivitas dalam menjalankan agenda negara.

Menurutnya, reshuffle yang tepat bisa menjadi energi baru bagi penyesuaian strategi pemerintahan agar lebih responsif terhadap situasi ekonomi, sosial, maupun politik.

Dengan kata lain, isu reshuffle bukan sekadar pergantian figur, tetapi juga sinyal bahwa arah kebijakan dan konsolidasi kekuasaan sedang ditata ulang untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat legitimasi pemerintahan.

Idrus pun menekankan pentingnya langkah revitalisasi terhadap jajaran kabinet guna mendorong akselerasi kinerja yang lebih efektif dan produktif. Upaya tersebut dinilai krusial agar seluruh program prioritas dapat berjalan optimal sebagai penjabaran dari visi besar presiden, termasuk agenda Asta Cita.

Baca Juga: Mensesneg Soal Reshuffle: Hanya Presiden yang Tahu, Tentu Setiap Hari Evaluasi

"Oleh karena itu yang perlu kita dorong adalah bagaimana presiden melakukan revitalisasi pembantu-pembantunya untuk memastikan adanya akselerasi kinerja kabinet yang lebih efektif," tuturnya.

Idrus juga mengajak seluruh elemen untuk memberikan masukan kepada presiden secara objektif dan faktual. Menurutnya, kritik yang konstruktif akan membantu memastikan pemerintahan berjalan lebih solid, responsif, dan mampu menjawab berbagai tantangan.

Seiring perjalanan pemerintahan, presiden sebagai pengambil keputusan memiliki kewajiban untuk menilai kinerja para pembantunya secara objektif dan berbasis data di lapangan.

Idrus menegaskan bahwa reshuffle merupakan instrumen yang sah dalam sistem pemerintahan presidensial dan dapat digunakan sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas kabinet.

"Menteri-menteri yang tidak produktif harus diganti, siapa pun dia," katanya.

Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian kapan reshuffle akan dilakukan. Publik masih menunggu langkah konkret Presiden Prabowo, apakah akan segera merombak susunan kabinet atau menjadikan isu ini sebagai dorongan untuk meningkatkan kinerja pemerintahan.

Bagi Idrus, yang terpenting bukanlah momentum reshuffle itu sendiri, melainkan hasil yang ingin dicapai. Ia menegaskan bahwa tujuan utama evaluasi adalah memastikan kabinet bekerja lebih solid, responsif, dan mampu menerjemahkan visi presiden secara nyata, sehingga pemerintahan dapat berjalan efektif dalam menjawab tantangan nasional maupun global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.